Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan Jumat, 10 April 2026. Indeks menguat sebesar 38,90 poin atau 0,53 persen, mencapai level 7.346,49. Penguatan ini juga diikuti oleh indeks LQ45 yang naik 3,83 poin atau 0,52 persen ke posisi 737,73.
Kenaikan IHSG ini sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen positif dari pasar global, terutama penguatan bursa saham Amerika Serikat (AS). Optimisme investor tampaknya kembali bangkit meskipun sejumlah risiko global masih membayangi, seperti diberitakan oleh Medcom.
Bursa saham Wall Street AS kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan sebelumnya, memberikan dorongan positif bagi pasar Asia, termasuk Indonesia. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,58 persen ke level 48.185,80. Sementara itu, S&P 500 naik 0,62 persen menjadi 6.824,66, dan Nasdaq Composite melesat 0,83 persen mencapai 22.822,42.
Selain itu, adanya sinyal de-eskalasi konflik di Timur Tengah turut meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Israel menyatakan akan bernegosiasi dengan Lebanon, yang berpotensi menghilangkan salah satu poin perselisihan utama dalam gencatan senjata antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump, dikutip dari RRI, menyatakan bahwa pasukan AS akan tetap berada di kawasan Teluk sampai kesepakatan nyata tercapai dan dipatuhi. Namun, situasi ini menunjukkan tren meredanya ketegangan yang disambut positif oleh pasar.
Tekanan dan Proyeksi Pasar
Meskipun terjadi penguatan, pasar saham Indonesia sempat mengalami tekanan sebelumnya karena meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik geopolitik, terutama pasca wacana gencatan senjata di Timur Tengah. Bahkan, pada perdagangan Kamis, 9 April 2026, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) mencapai Rp1,77 triliun.
Dari sisi makroekonomi domestik, sentimen pasar masih diwarnai oleh revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Dunia menurunkan proyeksinya menjadi 4,7 persen untuk tahun 2026, dari sebelumnya 4,8 persen. Penurunan ini disebabkan dampak eskalasi konflik di Timur Tengah yang menaikkan harga energi global, seperti disebutkan dalam laporan Medcom.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, 10 April 2026, memperkirakan IHSG akan bergerak cenderung menguat untuk menguji level 7.350. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menambahkan bahwa IHSG diperkirakan masih memiliki peluang penguatan, namun dalam rentang terbatas, yakni di kisaran 7.200 hingga 7.310.
Analis pasar modal Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menilai bahwa selama IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 7.200–7.250, peluang untuk melanjutkan penguatan ke area resistance berikutnya tetap terbuka. Namun, investor perlu tetap mewaspadai potensi aksi ambil untung jangka pendek, dilansir dari Kompas.com.
Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan data inflasi AS yang akan dirilis. Data Inflasi PCE AS bulan Februari 2026 naik 0,4 persen (mtm) atau 3 persen (yoy), masih di atas target The Fed 2 persen. Data ini belum termasuk dampak kenaikan harga minyak yang terjadi mulai Maret 2026, menandakan inflasi AS sudah relatif tinggi sebelum konflik terjadi.
Kondisi Bursa Regional
Sementara Wall Street menguat, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik pagi ini menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei Jepang menguat 1,38 persen ke 56.666,00, Shanghai menguat 0,93 persen ke 4.003,04, dan Hang Seng menguat 0,86 persen ke 25.974,00. Di sisi lain, beberapa bursa regional lain seperti Kospi Korea Selatan anjlok 1,61 persen.
Pergerakan harga komoditas global, khususnya minyak mentah dunia, juga menjadi perhatian. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 3 persen menjadi USD97,87 per barel, dan harga minyak Brent menguat lebih dari 1 persen menjadi USD95,92 per barel. Kondisi ini berpotensi memicu volatilitas pasar global di kemudian hari.