Program imunisasi di Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan dengan keberhasilan mengakhiri Kejadian Luar Biasa (KLB) polio tipe dua.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, Indonesia resmi mengakhiri KLB polio tipe dua pada akhir 2025. KLB tersebut dipicu oleh rendahnya cakupan imunisasi polio selama beberapa tahun sebelumnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi dedikasi tenaga kesehatan, komitmen orang tua, serta dukungan masyarakat dan mitra dalam keberhasilan menghentikan penyebaran polio. Menurutnya, setiap anak berhak atas perlindungan.
"Kita berhasil menghentikan penyebaran poliodi Indonesia berkat dedikasi tenaga kesehatan, komitmen orang tua dan seluruh anggota masyarakat agar anak-anak diimunisasi, serta dukungan mitra. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dikutip dari who.int, Jumat 13 Maret 2026.
UNICEF juga melaporkan bahwa Indonesia, bersama Madagaskar, berhasil mengakhiri wabah polio setelah kampanye imunisasi intensif dalam beberapa tahun terakhir. Kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dinilai mampu menjangkau anak-anak yang berisiko terlewat dari layanan imunisasi.
Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen atau bahkan kematian, terutama pada anak-anak. Imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran virus ini.
Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan terhadap polio, termasuk kampanye imunisasi di berbagai daerah, bahkan yang sulit dijangkau layanan kesehatan. Jutaan anak telah menerima vaksin polio sebagai bagian dari program imunisasi nasional.
UNICEF menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga pada dukungan masyarakat yang memastikan anak-anak datang ke fasilitas kesehatan atau mengikuti kegiatan imunisasi massal di komunitas.
Selain kampanye imunisasi, inovasi dalam teknologi vaksin, seperti penggunaan vaksin kombinasi enam-dalam-satu (hexavalent vaccine), juga membantu memperluas perlindungan bagi anak-anak. Vaksin ini melindungi bayi dari beberapa penyakit sekaligus, termasuk polio, dan mengurangi jumlah suntikan yang harus diterima bayi.
"Pendekatan ini juga membantu sistem kesehatan memberikan layanan imunisasi yang lebih efisien," tulis laman unicef.org.
Nigeria juga menunjukkan kemajuan dalam program imunisasi dengan kampanye vaksinasi besar pada 2025 yang berhasil memberikan vaksin campak, rubella, dan polio kepada sekitar 106 juta anak. Selain itu, vaksin malaria mulai diperkenalkan secara luas di berbagai negara dengan tingkat penularan tinggi.
Sedikitnya 14 negara telah memasukkan vaksin malaria dalam program imunisasi nasional mereka sejak 2024. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian anak akibat malaria.
UNICEF menekankan bahwa keberhasilan Indonesia dalam mengakhiri wabah polio harus terus dipertahankan melalui penguatan sistem kesehatan dan perluasan akses imunisasi. Hal ini penting untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksin.