Mantan pelatih Barcelona, Xavi Hernandez, secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap Presiden klub, Joan Laporta. Perasaan tersebut timbul setelah keputusan pemecatannya dari kursi kepelatihan Barcelona pada tahun 2024, sebuah pengalaman yang ia rasakan sebagai pengkhianatan, dilansir dari Bola.com.
Xavi merasa dirinya telah dikecewakan oleh Laporta, sosok yang disebutnya memiliki hubungan dekat dengannya layaknya seorang teman. Ia bahkan menuding bahwa pengaruh utama di balik pemecatannya bukanlah Laporta sendiri, melainkan Alejandro Echevarría, penasihat dekat Laporta.
Dalam sebuah wawancara dengan La Vanguardia melalui Mundo Deportivo, Xavi mengungkapkan bahwa Laporta bukan figur yang sepenuhnya memimpin klub. Menurutnya, Echevarría adalah tokoh yang memiliki kekuasaan besar di belakang layar dan berperan penting dalam keputusan tersebut.
"Saya kembali ke Barca sebagai pelatih karena dia, tetapi pada akhirnya dia mengecewakan saya," kata Xavi, seperti dikutip dari Football Espana, Senin (9/3/2026). "Mengapa? Karena dia menyingkirkan saya sebagai pelatih tanpa mengatakan kebenaran, dipengaruhi oleh seseorang yang menurut saya berada di atas presiden, yaitu Alejandro Echevarría. Dialah yang memutuskan untuk menyingkirkan saya sebagai pelatih."
Xavi juga menambahkan, "Begitulah cara Barca bekerja. Klub ini praktis dipimpin oleh Alejandro Echevarría. Laporta adalah seseorang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan saya, bahkan seperti teman. Itulah mengapa dia menjadi kekecewaan terbesar dalam kepergian saya dari Barca. Dia benar-benar mengecewakan saya."
Barcelona secara resmi mengumumkan kepergian Xavi Hernandez dari posisi pelatih utama setelah pertandingan terakhir LaLiga musim 2023/2024 melawan Sevilla, yang berlangsung pada Senin (27/5/2024) dini hari WIB. Keputusan ini kemudian membuka jalan bagi Hansi Flick untuk mengambil alih posisi tersebut.
Xavi menjelaskan detail situasi yang mengarah pada pemecatannya. Pada Januari musim terakhirnya, ia telah menyatakan niat untuk tidak melanjutkan perannya demi kebaikan klub dan kepentingan pribadinya. Namun, setelah itu tim menunjukkan performa positif dengan serangkaian kemenangan selama dua hingga tiga bulan.
Situasi mulai berbalik setelah Barcelona tersingkir dari Liga Champions di tangan Paris Saint-Germain dan mengalami kekalahan di La Liga dari rival abadi, Real Madrid. Meski demikian, pihak klub tetap meminta Xavi untuk bertahan.
Xavi bahkan sempat bertemu langsung dengan Alejandro Echevarría, karena ia menyadari pengaruh besar Echevarría dalam pengambilan keputusan. "Saya mengatakan bahwa saya ragu karena mereka meminta saya tetap melatih, tetapi saya tidak melihatnya dengan jelas," tutur Xavi.
Echevarría pada saat itu meyakinkan Xavi bahwa mereka sedang mempersiapkan musim berikutnya dan presiden juga telah membuat keputusan yang jelas. Namun, setelah kekalahan di Liga Champions, Echevarría menghubungi Xavi lagi.
"Dia mengatakan kami harus bertemu karena mereka baru saja mengadakan rapat direksi dan sebagian besar tidak lagi yakin dengan kelanjutan saya," kata Xavi. Mantan gelandang tersebut menerima keputusan itu karena sejak awal ia sudah menyampaikan keinginan untuk pergi dan tidak ada keharusan baginya untuk tetap bertahan.
Sebelumnya, Xavi juga pernah mengklaim bahwa Joan Laporta adalah alasan mengapa Lionel Messi tidak kembali ke Barcelona pada musim panas 2023, setelah kontraknya dengan Paris Saint-Germain berakhir.
Pernyataan Xavi ini muncul menjelang pemilihan presiden Barcelona yang akan datang kurang dari sebulan lagi. Komentar-komentar pedas dari mantan pemain dan pelatih ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap peluang Laporta untuk kembali terpilih sebagai presiden klub.