Industri pertambangan di Indonesia semakin menunjukkan komitmennya terhadap praktik pertambangan berkelanjutan atau green mining. Hal ini didorong oleh tekanan global untuk dekarbonisasi dan target nasional dalam menurunkan emisi.
Sektor pertambangan, sebagai salah satu pilar ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 10,5% terhadap PDB, menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan target penurunan emisi sebesar 31,89% pada tahun 2030 dan standar keberlanjutan global.
Ketergantungan pada bahan bakar fosil menjadi tantangan utama. Banyak aktivitas pertambangan, terutama di daerah terpencil, mengandalkan generator diesel untuk listrik dan bahan bakar operasional, yang meningkatkan emisi karbon dan biaya operasional.
Sektor pertambangan global menyumbang sekitar 4–7% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Transformasi menuju operasional yang lebih ramah lingkungan menjadi langkah strategis untuk mencapai ekonomi rendah karbon.
Asosiasi industri melihat kesiapan perusahaan tambang Indonesia dalam mengadopsi praktik green mining, meskipun penerapannya bertahap karena kondisi operasional dan infrastruktur yang berbeda di setiap lokasi.
Aditya Pratama, Ketua Komite Komunikasi & Government Relations APBI-ICMA, menekankan bahwa transisi menuju green mining menjadi kebutuhan bisnis jangka panjang.
"Tantangannya adalah bagaimana memastikan implementasinya bisa berjalan lebih cepat dan lebih luas, didukung kesiapan teknologi serta kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan penyedia solusi," ujar Aditya.
Pendekatan green mining memerlukan sistem energi terintegrasi yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing tambang. Integrasi energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, dan teknologi pemantauan operasional menjadi pertimbangan utama.
Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) semakin relevan di kawasan tambang. Teknologi ini membantu mengurangi ketergantungan pada diesel, meningkatkan efisiensi biaya energi, dan memperkuat ketahanan pasokan listrik di lokasi terpencil.
Dengan dukungan sistem penyimpanan energi berbasis baterai, energi surya menjadi solusi yang lebih fleksibel untuk mendukung kebutuhan operasional tambang yang dinamis.
Jefferson Kuesar, CEO SUN Energy, menyatakan, "Strategi green mining yang efektif harus mempertimbangkan karakter operasional setiap tambang secara menyeluruh. Karena itu, implementasi solusi energi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing site. Integrasi energi surya, penyimpanan energi, dan sistem monitoring menjadi kunci untuk menekan emisi sekaligus menjaga efisiensi dan kontinuitas operasi."
Elektrifikasi Armada Operasional Tambang
Elektrifikasi armada operasional merupakan langkah strategis dalam menekan emisi. Mobilitas menjadi komponen penting dalam aktivitas pertambangan, sehingga penggunaan kendaraan listrik berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi.
Karina Darmawan, CEO SUN Mobility, menjelaskan, "Elektrifikasi armada perlu dilihat sebagai bagian dari transformasi operasional yang lebih luas. Implementasinya harus mempertimbangkan karakteristik tambang, mulai dari jenis armada, rute operasional, intensitas penggunaan, hingga kesiapan infrastruktur pengisian daya."
Keberhasilan transisi menuju green mining bergantung pada kesiapan teknologi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Pendekatan terintegrasi antara industri, pemerintah, dan penyedia solusi energi penting untuk mempercepat transisi menuju operasional tambang yang lebih rendah karbon.
SUN sendiri mengimplementasikan pendekatan energi terintegrasi yang mencakup PLTS, sistem penyimpanan energi baterai (BESS), infrastruktur pengisian kendaraan listrik, serta elektrifikasi armada operasional sebagai solusi untuk mendukung transformasi green mining di Indonesia.