Pemerintah Indonesia mempromosikan potensi besar sektor hulu migas nasional kepada investor global dalam forum 'Indonesia Untapped and Frontier Resources: Scale, Strategy and Partnership' di Houston, Amerika Serikat, pada Rabu (6/5/2026). Langkah ini bertujuan memperkuat kolaborasi teknologi dan modal guna mengoptimalkan sumber daya energi yang belum terjamah.
Dilansir dari Detik Finance, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Susilo menyatakan bahwa pemerintah terus memperbaiki regulasi dan kepastian hukum untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif. Fokus utama mencakup pengembangan proyek strategis nasional, salah satunya adalah proyek Abadi Masela.
Data dari SKK Migas menunjukkan Indonesia memiliki 128 cekungan migas, namun baru 20 cekungan yang sudah beroperasi secara komersial. Sementara itu, 43 cekungan masih dalam tahap eksplorasi dan 65 cekungan lainnya tercatat belum tersentuh oleh aktivitas pengeboran sama sekali.
Senior Manager-Oilfield Development SKK Migas Wilson Pariangan mengungkapkan bahwa Indonesia menyimpan potensi cadangan mencapai 2,7 miliar barel minyak dan 39,35 TCF gas. Saat ini, terdapat sedikitnya 158 blok migas yang tersedia bagi para investor internasional dengan sistem kontrak yang diklaim lebih ramah investasi.
"Dengan potensi mencapai 2,7 miliar barel minyak dan 39,35 TCF gas, serta 158 blok migas yang tersedia, Indonesia menawarkan peluang investasi yang nyata dengan sistem yang semakin kompetitif dan ramah investor," ujar Wilson Pariangan, Senior Manager-Oilfield Development SKK Migas.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menambahkan bahwa pada tahun 2025, Pertamina telah membuktikan keberhasilan eksplorasi melalui pengeboran 20 sumur. Delapan dari sumur tersebut berhasil menemukan cadangan baru berkat dukungan data seismik 2D sepanjang 2.931 km dan 3D seluas 855 km persegi.
Selain eksplorasi baru, optimasi aset yang sudah ada juga menjadi peluang melalui teknologi Chemical EOR dan Thermal EOR di lokasi seperti Blok Rokan. Langkah ini dinilai sebagai peluang investasi berisiko rendah dengan nilai ekonomi yang tinggi bagi penyedia teknologi global.
Sektor gas juga diperkuat melalui pembangunan infrastruktur yang menghubungkan wilayah Sumatera dan Jawa guna menyeimbangkan pasokan dari Indonesia Timur. Di samping migas konvensional, Indonesia menawarkan pengembangan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) serta potensi panas bumi sebesar 24 GW yang merupakan terbesar di dunia.