Investor Global Buang Sektor Tambang, Cermati Efek Net Sell Masif di Saham ANTM hingga MDKA

IHSG parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026) setelah tekanan jual investor mancanegara tak terbendung. Indeks harus rela terkoreksi 0,53% atau kehilangan 42,84 poin ke posisi 8.103,8, sebuah level psikologis yang kini mulai terancam oleh sentimen global.

Laju pasar modal domestik terbebani oleh aksi pelepasan aset yang cukup agresif. Berdasarkan data terbaru dari Stockbit, nilai net sell atau jual bersih investor asing di seluruh pasar menembus angka Rp 469,7 miliar dalam satu hari perdagangan saja. Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran minat risiko investor global yang cenderung mengamankan posisi di tengah ketidakpastian pasar.

Eksodus Modal dari Saham “Big Caps” Tambang

Sorotan utama tertuju pada saham-saham di sektor komoditas dan perbankan syariah yang biasanya menjadi primadona. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi sasaran utama aksi ambil untung investor asing. Nilai jual bersih pada saham tambang pelat merah ini mencapai Rp 178,5 miliar, memimpin daftar saham yang paling banyak dilego.

Kondisi serupa terjadi pada emiten emas lainnya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang mencatatkan jual bersih sebesar Rp 114,4 miliar. Tekanan ini menunjukkan bahwa sektor mineral sedang mengalami masa konsolidasi yang cukup berat di mata pengelola dana institusi global.

Berikut adalah daftar 10 saham dengan nilai net sell asing terbesar pada perdagangan Kamis:

  1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp 178,5 miliar

  2. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Rp 114,4 miliar

  3. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): Rp 100,9 miliar

  4. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Rp 86,3 miliar

  5. PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp 84,9 miliar

  6. PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rp 65,9 miliar

  7. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 57,2 miliar

  8. PT Goto Gojek Indonesia Tbk (GOTO): Rp 53,7 miliar

  9. PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Rp 42,5 miliar

  10. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Rp 41,7 miliar

Dinamika Transaksi dan Napas Pasar

Meskipun indeks melemah, aktivitas perdagangan sebenarnya masih tergolong cukup likuid. Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyentuh Rp 19,95 triliun. Angka ini mencerminkan bahwa pertarungan antara pembeli domestik dan penjual asing berlangsung cukup sengit.

Data bursa menunjukkan pergerakan harga saham yang sangat variatif namun didominasi oleh penurunan. Sebanyak 370 saham terjerembab ke zona merah, sementara 314 saham masih mampu mencatatkan penguatan, dan 274 saham lainnya bergerak stagnan di tempat.

“Volatilitas ini dipicu oleh akumulasi sentimen makro yang membuat investor lebih memilih memegang kas atau beralih ke instrumen yang lebih defensif,” ungkap salah satu pengamat pasar modal di Jakarta.

Volume perdagangan yang mencapai 33,53 miliar saham dengan frekuensi transaksi 2,49 juta kali menandakan bahwa pasar masih sangat aktif mencari titik keseimbangan baru. Pelemahan IHSG ke level 8.103,8 ini menjadi sinyal waspada bagi para pelaku pasar ritel agar tidak gegabah melakukan aksi beli sebelum ada tanda-tanda pembalikan arah (reversal) yang valid.

Apa yang Harus Diantisipasi Investor?

Pelepasan saham BRIS dan BBNI juga menarik untuk dicermati. Sektor perbankan yang biasanya menjadi pilar kekuatan IHSG mulai goyah karena arus modal keluar. Net sell pada BRIS yang menyentuh angka Rp 100,9 miliar menunjukkan adanya kejenuhan sementara setelah reli panjang di awal tahun.

Bagi pelaku pasar, mencermati pergerakan harga komoditas global menjadi kunci utama untuk memprediksi arah saham ANTM, MDKA, dan INCO dalam beberapa hari ke depan. Jika harga nikel dan emas dunia kembali stabil, ada peluang bagi asing untuk kembali melakukan akumulasi. Namun, jika tren jual bersih ini berlanjut hingga akhir pekan, IHSG berisiko menguji level support di bawah 8.100.

Langkah terbaik saat ini adalah memantau pergerakan dana asing (flow) secara real-time. Aksi jual masif di saham GOTO sebesar Rp 53,7 miliar juga mengindikasikan bahwa sektor teknologi belum sepenuhnya keluar dari tekanan jual, meskipun ekosistem digital terus berkembang.

Kini, perhatian tertuju pada pembukaan perdagangan esok hari. Apakah aksi borong domestik mampu meredam tekanan net sell asing, ataukah pelemahan ini justru akan menjadi pembuka tren bearish jangka pendek di Bursa Efek Indonesia? Tetap disiplin dengan rencana trading dan selalu perhatikan manajemen risiko di tengah gempuran sentimen global ini.

Sumber : Investor.id

Recommended