Nama Boy Jati Asmara mungkin familiar bagi sebagian penggemar sepak bola Indonesia, terutama bobotoh Persib Bandung. Namun, perjalanan kariernya untuk bergabung dengan tim kebanggaan Kota Kembang ternyata tidak selalu berjalan mulus, dilansir dari Bola.
Meski lahir dan besar di Bandung, Boy Jati Asmara justru memulai petualangan sepak bolanya di Jakarta. Ia tidak langsung masuk ke sistem pembinaan Persib, melainkan mengasah kemampuannya di lingkungan yang berbeda dari tanah kelahirannya.
Langkah tersebut menjadi titik awal dari perjalanan panjang penuh tantangan. Boy harus membuktikan kualitasnya di luar Bandung sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan membela tim impiannya. Kini, di usianya yang ke-43 tahun, Boy mengenang kembali perjalanan tersebut dengan penuh rasa syukur, menjadikannya bukti bahwa meraih mimpi kerap kali memerlukan jalan yang tidak biasa.
Boy mengungkapkan bahwa ia mengawali karier juniornya di Persija Jakarta Timur, jauh dari Bandung. Di sana, ia seangkatan dengan Maman Abdurrahman, yang kelak dikenal sebagai kapten Persija.
"Dulu saya sudah di Persija Timur junior, satu angkatan dengan Maman Abdurrahman di Piala Suratin. Setelah itu juara, lalu sempat magang di tim senior," kenang Boy. Setelah dari Persija Timur, kariernya berlanjut ke Persikabo.
Dari Persikabo, Boy berhasil menembus Timnas Indonesia U-20. Kesempatan inilah yang kemudian membuka jalan baginya untuk kembali ke Bandung. "Setelah itu saya ke Persikabo, masuk timnas U-20, baru kemudian balik ke Persib pada era pelatih Deny Syamsudin tahun 2001," jelasnya.
Tantangan Budaya Senioritas dan Pembinaan Lokal Persib
Boy juga menceritakan alasan mengapa ia tidak langsung bergabung dengan Persib sejak usia muda. Menurutnya, saat itu di lingkungan klub terdapat budaya senioritas yang cukup kuat.
Selain itu, Persib dikenal sangat mengutamakan pemain lokal yang dihasilkan dari sistem pembinaan sendiri. Kondisi ini membuat persaingan untuk pemain muda menjadi sangat ketat. "Dulu masih ada istilah senioritas. Persib juga sangat mengedepankan kebanggaan lokal. Bahkan pemain dari luar pulau saja sudah dianggap pemain luar," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa sistem pembinaan sepak bola di Bandung kala itu berjalan sangat baik. Hal ini mengakibatkan Persib tidak pernah kekurangan pemain berbakat yang berasal dari klub-klub amatir setempat. "Pembinaan di Bandung sangat bagus. Jadi Persib tidak pernah kekurangan pemain dari hasil binaan sendiri," lanjutnya.
Profesionalisme dalam Menghadapi Mantan Klub
Selain Persib, Boy Jati Asmara juga pernah membela beberapa klub lain, seperti Deltras Sidoarjo, Persitara Jakarta Utara, Mitra Kukar, hingga Arema Indonesia. Ia berbagi pengalaman menarik saat harus kembali ke Bandung sebagai lawan Persib.
Dalam situasi tersebut, Boy mengaku tetap menjunjung profesionalisme meskipun menghadapi atmosfer stadion yang begitu emosional. "Tentu ada motivasi lebih. Bermain di Bandung dengan atmosfer stadion seperti itu pasti memberikan dorongan tambahan," katanya.
Bahkan, ia menyebut banyak pemain dari luar daerah selalu bersemangat saat bertanding di Bandung, tanpa memandang kondisi fisik mereka. "Bahkan pemain yang cedera pun bisa seperti sembuh kalau mau main di Bandung. Semua ingin tampil di sana," ujarnya sambil tersenyum.
Saat ini, Boy Jati Asmara melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih, berbagi pengalaman panjangnya kepada generasi sepak bola berikutnya. Kisah perjalanannya menjadi inspirasi, menunjukkan bahwa terkadang jalan menuju impian harus ditempuh melalui jalur yang tidak biasa.