Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menekankan pentingnya pesepak bola lokal untuk berkarier di kompetisi-kompetisi terbaik dunia demi meningkatkan kualitas sepak bola nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Herdman melalui tayangan di saluran YouTube Antara TV Indonesia.
"Dan bagi kami, saya pikir, di Indonesia, kita membutuhkan bakat lokal untuk menembus," ujar John Herdman.
Dorongan ini didasarkan pada kebutuhan mendasar untuk mematahkan keraguan para pemain muda di tanah air, seperti dilansir dari Bola. Herdman menilai keberadaan pemain di liga top luar negeri akan menjadi bukti nyata bahwa prestasi tersebut sangat mungkin digapai.
"Kita benar-benar membutuhkan bakat lokal untuk menembus liga-liga teratas di dunia. Anda tahu, kita sudah hampir berhasil dengan Marselino," ucap John Herdman.
Terkait hal itu, Marselino Ferdinan dijadikan contoh nyata pemain yang sudah tiga tahun berkarier di Eropa. Gelandang berusia 21 tahun milik Oxford United di divisi kedua Liga Inggris tersebut saat ini sedang dipinjamkan ke klub kasta tertinggi Liga Slovakia, AS Trencin, selama satu musim.
Selama membela AS Trencin, pemain yang akrab disapa Marceng ini baru tampil empat kali dengan total 72 menit bermain dan mengantongi satu kartu kuning akibat terkendala cedera. Sebelumnya, ia memulai kiprah di Eropa pada 2023 bersama klub divisi kedua Liga Belgia, KMSK Deinze, sebelum akhirnya pindah ke Oxford United.
"Tapi kita membutuhkan itu karena di situlah kita menembus sebuah hambatan. Dan hambatan itu adalah menyampaikan kepada setiap pemain muda lainnya di negeri ini bahwa hal itu mungkin dilakukan," tutur John Herdman.
Pengalaman serupa mengenai dampak besar pemain yang menembus liga top dunia pernah dirasakan Herdman saat melatih Timnas Kanada pada 2017. Kala itu, ia memberikan kesempatan debut kepada Alphonso Davies yang masih berusia 16 tahun.
"Dan saya mengalami ini dengan Alphonso Davies di Kanada. Anda memiliki seorang pengungsi berusia 16 tahun di Kanada yang pindah ke Bayern Munchen, tapi tidak hanya pindah, dia bermain di setiap pertandingan dan kemudian memenangkan empat gelar sekaligus, Liga Champions, pada usia 18 tahun." kata John Herdman.
Keberhasilan Davies di Bayern Munchen langsung memicu motivasi besar bagi generasi muda di Kanada. Fenomena tersebut membuktikan bahwa kehadiran satu sosok sukses mampu mengubah pola pikir anak-anak di suatu negara.
"Begitu hal itu terjadi, setiap anak di Kanada ingin menjadi Alphonso Davies. Tapi yang terjadi adalah menembus hambatan bahwa ini adalah hal yang mungkin," terang John Herdman.
Nakhoda berusia 50 tahun tersebut kini berkomitmen memikul tanggung jawab penuh untuk membantu para pemain muda Indonesia agar bisa menyusul ke Eropa. Langkah pembinaan ini akan menyasar para pemain di berbagai kelompok umur.
"Jadi, bagi saya, saya sangat sadar bahwa saya memiliki tanggung jawab untuk membantu hal itu terjadi dan mewujudkannya," terang John Herdman.
Beberapa nama pemain muda potensial seperti Dony Tri Pamungkas hingga Alfharezzi Buffon masuk dalam radar yang akan didorong untuk berkembang. Herdman juga memantau talenta-talenta berbakat lain yang kini mulai bermunculan di skuad Timnas U-15, U-17, hingga U-20.
"Apakah itu Dony Tri, apakah itu Marselino, apakah itu Buffon. Ada lebih banyak pemain yang muncul di tim U-17, di U-15, di U-20. Tapi saya sangat jelas bahwa kita perlu mewujudkan hal ini." lanjut John Herdman.
Proses pengembangan bakat sepak bola diakui berjalan secara dinamis dan tidak bisa dipaksakan begitu saja. Kendati demikian, Herdman memastikan keseriusannya dalam mengawal proses pembinaan jangka panjang tersebut.
"Dan Anda tidak bisa memaksanya karena pengembangan bakat itu dinamis. Tapi saya tahu saya memiliki tanggung jawab, dan saya mengemban tanggung jawab itu dengan serius," katanya.