John Herdman Soroti Mentalitas Mencetak Gol Timnas Indonesia

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menegaskan bahwa skuad Garuda lebih membutuhkan mentalitas mencetak gol ketimbang terpaku pada ketiadaan penyerang.

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menegaskan bahwa permasalahan utama skuad Garuda saat ini bukan kekosongan stok penyerang murni, melainkan minimnya mentalitas tim untuk mencetak gol. Pernyataan tersebut disampaikan di Stadion Madya pada Jumat (22/5/2026) sebagaimana dilansir dari Bola.

Arsitek tim asal Inggris tersebut sering mendengar keluhan mengenai kelangkaan penyerang tengah andalan di dalam tubuh Merah Putih. Baginya, pembenahan pola pikir seluruh pemain jauh lebih krusial untuk dihadapi sekarang.

"Namun, ada satu hal yang harus kita ubah, yakni mentalitas negara ini. Sebab, kita terus berbicara soal penyerang tengah bernomor sembilan. ‘Timnas Indonesia butuh penyerang tengah’," kata Herdman.

Mantan pelatih Timnas Kanada ini menginginkan perubahan paradigma agar agresivitas mencetak gol diemban bersama oleh seluruh lini. Targetnya adalah melahirkan keyakinan pada setiap personel untuk membobol gawang lawan.

"Menurut saya, Timnas Indonesia butuh mentalitas dalam satu tim bahwa semua orang bisa mencetak gol. Kita harus membangun mentalitas pencetak gol, apakah dia bek sayap, penyerang, gelandang tengah," imbuh Herdman.

Pemahaman momentum dalam membobol gawang lawan dinilai menjadi pelajaran penting yang harus dikuasai skuad Garuda. Herdman menginginkan adanya keberanian dari para pemain untuk merangsek ke area pertahanan terakhir lawan.

"Kita harus bisa melihat momennya. Kita harus melatih momen tersebut, mempunyai lebih banyak pemain berada di kotak penalti lawan. Harus ada lebih banyak pemain yang percaya mereka bisa masuk ke area untuk mencetak gol," kata Herdman.

Guna mengatasi persoalan ini, tim kepelatihan memilih fokus untuk mengubah cara berpikir anak asuhnya. Respons tersebut diambil demi memutus ketergantungan pada figur penyerang tengah murni.

"Bek tengah bertanggung jawab terhadap set-pieces. Jadi, pelajaran besarnya adalah saya terus mendengar, ‘Di Indonesia, kami tidak memiliki penyerang tengah’. Dan respons dan solusi saya adalah mengubah pola pikir para pemain," imbuh Herdman.

Sifat pasif dalam permainan Timnas Indonesia beberapa tahun ke belakang menjadi sorotan utama sang pelatih. Skuad Garuda dinilai terlalu monoton dengan hanya menerapkan skema bertahan dan transisi cepat.

"Semua pemain harus bisa berjuang untuk bisa mencetak gol. Semua pemain ingin menyerang. Karena Timnas Indonesia dalam periode-periode sebelumnya, saya merasa, terlalu pasif. Terlalu pasif," kata Herdman.

Pemanfaatan keunggulan jumlah pemain untuk menembus lini belakang lawan menjadi strategi yang ingin ia suntikkan. Seluruh sektor diharapkan terlibat aktif dalam skenario ofensif tersebut.

"Hanya bertahan, transisi, bertahan, transisi. Bagi saya, kami membutuhkan lebih banyak pemain yang berpikir, ‘tambah satu’, ‘overload’. Bek tengah, gelandang tengah, bek sayap, mencoba membantu menembus garis pertahanan lawan," imbuh Herdman.

Evaluasi performa menunjukkan bahwa kolektivitas permainan sebetulnya sudah berjalan apik hingga area dua pertiga lapangan. Kendala krusial baru muncul saat aliran bola memasuki sepertiga akhir pertahanan lawan.

"Saya pikir, mereka bermain sangat baik di dua pertiga pertahanan lawan. Namun, di bagian sepertiga akhir masih kurang. Kami akan memperbaiki ini dalam pemusatan latihan. Saya sudah berbicara dengan pemimpin di grup ini," kata Herdman.

Untuk mengikis kelemahan tersebut, Herdman memanfaatkan agenda pemusatan latihan di Jakarta sebagai wadah pembenahan taktik. Koordinasi mengenai penempatan posisi dan penyelesaian akhir menjadi fokus utama yang dikejar.

"Mereka harus terhubung untuk menutupi celah tersebut. Ini juga tentang waktu berlari di dalam kotak penalti, zona-zona yang harus kami serang. Jadi, kami akan siap," lanjut Herdman.

Recommended