Kelola Keuangan Ramadan: Bedakan Kebutuhan Primer dan Tersier

Bijak kelola keuangan di bulan Ramadan dengan membedakan kebutuhan primer dan tersier. Tips dari konten kreator Cempaka Asriani.

Bulan Ramadan seringkali identik dengan peningkatan konsumsi. Pengeluaran membengkak untuk berbagai keperluan, mulai dari makanan hingga pakaian. Agar keuangan tetap stabil, penting untuk membedakan antara kebutuhan primer dan tersier.

Menurut konten kreator mindful consumption, Cempaka Asriani, penting untuk mengelola keuangan dengan cermat selama bulan Ramadan. Keinginan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kerap kali bercampur dengan dorongan emosional, sehingga belanja menjadi lebih impulsif.

Langkah awal untuk menghindari pemborosan adalah mengelompokkan barang berdasarkan tingkat urgensinya. Kebutuhan seperti bahan makanan pokok, produk perawatan kulit, dan perawatan tubuh termasuk dalam kategori primer.

“Pertama, kalau yang sifatnya barang-barang habis pakai, itu masuk ke primer enggak apa-apa,” ujar Cempaka.

Namun, Cempaka mengingatkan bahwa label primer bukan berarti bebas membeli dalam jumlah berlebihan. Konsumen tetap harus berpegang pada pola beli saat barang sudah habis, bukan saat tergiur promo.

“Tapi jangan menyetok. Jangan langsung beli satu keranjang penuh, varian banyak, dan stok banyak. Jadi, beli kalau sudah habis. Selama polanya seperti itu, masuk ke kebutuhan primer aman,” tutur dia.

Masyarakat juga diingatkan agar tidak mudah tergiur promo, sebab tidak semua pembelian promo itu efisien. Risiko menimbun barang promo yang akhirnya kedaluwarsa dan mubazir juga perlu dipertimbangkan.

“Kita beli karena merasa perlu, tapi ketika beneran perlu, sudah enggak bisa dipakai karena sudah kadaluwarsa, jadinya mubazir. Buat apa buang-buang uang,” ucap dia.

Keputusan finansial yang sehat bukan hanya soal harga murah, tetapi juga soal kebutuhan nyata dan waktu penggunaan.

Selain konsumsi, pengeluaran untuk sandang dan gaya hidup juga sering membengkak saat Ramadan. Baju baru untuk buka bersama atau Lebaran sering dianggap sebagai kewajiban, padahal bisa disiasati.

Cempaka mengakui bahwa pakaian termasuk kebutuhan primer, tetapi pembelian berulang hanya untuk memenuhi dress code bisa dikelola lebih bijak, contohnya dengan meminjam atau menyewa.

Harga beli yang terjangkau belum tentu mencerminkan total biaya kepemilikan. Biaya perawatan dan penggunaan jangka panjang juga perlu dipertimbangkan sebelum membeli.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan keinginan. Dengan membedakan kebutuhan primer dan tersier secara disiplin, masyarakat dapat menjaga stabilitas keuangan hingga Lebaran tanpa merasa terbebani.

"Pengelolaan yang bijak bukan berarti menahan diri sepenuhnya, melainkan memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar sesuai prioritas," ujar Cempaka.

Recommended