Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara paling rawan bencana di dunia menurut World Risk Report 2024. Ironisnya, lebih dari separuh satuan pendidikan di seluruh Indonesia terpapar oleh berbagai jenis ancaman bencana secara bersamaan, demikian data yang dirilis oleh BNPB.
Pengenalan terhadap ragam ancaman yang berpotensi muncul di lingkungan sekitar sekolah merupakan langkah awal krusial dalam menumbuhkan budaya sadar bencana di kalangan siswa dan seluruh warga sekolah. Kesiapan ini memungkinkan respons yang lebih cepat dan tepat saat situasi darurat benar-benar terjadi.
Mengutip Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, peristiwa bencana didefinisikan sebagai serangkaian kejadian yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat. Penyebabnya dapat berasal dari faktor alam, non-alam, maupun manusia, dengan konsekuensi berupa korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian materi, serta dampak psikologis yang mendalam.
Sebagaimana diungkapkan melalui akun Instagram @litbangdikbud, Indonesia berada di posisi unik sebagai "titik temu" lempeng dunia, menjadikannya daerah dengan risiko bencana tinggi. Bencana tidak hanya terbatas pada fenomena alam seperti gempa atau tsunami, tetapi juga mencakup bencana non-alam hingga kegagalan teknologi yang dapat terjadi di sekitar kita, demikian informasi yang dilansir dari Medcom pada Sabtu, 4 April 2026.
Laman kurikulum.kemendikdasmen.go.id menyebutkan bahwa bencana pada hakikatnya adalah gangguan serius yang sulit ditangani tanpa bantuan eksternal. Oleh karena itu, membangun kesadaran akan risiko perlu dimulai sejak dini, termasuk di lingkungan pendidikan.
Data BNPB tahun 2023 menunjukkan bahwa 78% satuan pendidikan berada di wilayah berisiko gempa bumi dan 38% di wilayah berisiko banjir. Secara kumulatif, lebih dari 500 satuan pendidikan yang menaungi sekitar 60 juta murid menghadapi ancaman bencana. Berikut adalah 10 jenis bencana yang dapat terjadi di lingkungan sekolah:
1. Gempa Bumi
Indonesia sering mengalami gempa bumi karena letaknya di pertemuan lempeng-lempeng dunia. Kondisi geografis ini membentuk jalur gempa yang aktif dengan ribuan titik pusat gempa dan ratusan gunung berapi di berbagai wilayah.
2. Tsunami
Gempa bumi di laut, terutama yang terjadi di laut dalam dengan deformasi bawah laut, dapat memicu gelombang laut besar atau tsunami. Letusan gunung berapi di laut juga berpotensi menimbulkan gelombang pasang, seperti yang pernah terjadi saat Gunung Krakatau meletus.
3. Banjir
Banjir merupakan ancaman di perkotaan maupun pegunungan, termasuk banjir rob akibat kenaikan air laut. Di perkotaan, banjir sering disebabkan oleh sistem drainase yang buruk dan padatnya permukiman. Sementara itu, di pegunungan, banjir umumnya timbul karena alih fungsi lahan hutan.
4. Tanah Longsor
Bencana tanah longsor banyak terjadi di wilayah dengan kemiringan lereng tinggi, terutama saat musim hujan dengan curah hujan ekstrem. Jawa Barat dan Jawa Tengah adalah contoh daerah yang sering terdampak bencana ini setiap tahunnya.
5. Kekeringan
Hampir setiap musim kemarau, berbagai wilayah di Indonesia menghadapi bahaya kekeringan akibat menurunnya kemampuan lahan dalam menyimpan air. Dampak terburuk meliputi gagal panen, kekurangan pangan, hingga masalah gizi buruk, bahkan kematian.
6. Epidemi dan Wabah Penyakit
Epidemi adalah peningkatan signifikan penyakit menular yang melampaui kondisi normal di waktu dan daerah tertentu, berpotensi menimbulkan malapetaka. Bencana ini dapat mengakibatkan kematian dan terganggunya roda perekonomian, sebagaimana dialami Indonesia saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
7. Kebakaran Gedung dan Permukiman
Kebakaran gedung dan permukiman sering dipicu oleh kelalaian manusia, seperti korsleting listrik, ledakan kompor, atau lilin yang tidak diawasi. Ancaman ini kerap tidak disadari sebagai risiko serius di lingkungan sekolah, padahal risikonya sangat nyata, terutama saat musim kemarau.
8. Kebakaran Hutan dan Lahan
Setiap musim kemarau, Indonesia menghadapi bahaya kebakaran hutan dan lahan yang dampaknya sangat luas. Selain hilangnya keanekaragaman hayati, asap yang ditimbulkan dapat mengganggu negara-negara tetangga dan mempengaruhi aktivitas belajar mengajar.
9. Kegagalan Teknologi
Kegagalan teknologi dapat terjadi akibat kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian, atau kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan industri. Dampaknya bisa berupa kebakaran, pencemaran bahan kimia, paparan bahan radioaktif, hingga kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban jiwa.
10. Kerusuhan Sosial
Keberagaman suku, ras, agama, dan etnis di Indonesia merupakan aset sekaligus potensi kerawanan jika tidak dikelola dengan baik. Kerusuhan sosial atau konflik, baik horizontal maupun vertikal, dapat terjadi sewaktu-waktu dan berpotensi mengganggu kegiatan belajar mengajar, bahkan memaksa siswa untuk mengungsi.
Literasi kebencanaan diharapkan menjadi bekal penting bagi seluruh warga sekolah agar lebih waspada dan siap siaga dalam menghadapi situasi darurat.