Kisah Alfath, Tukang Bangunan yang Sukses Meraih 15 Prestasi di UGM

Alfath Qornain Isnan Yuliadi, mahasiswa UGM, berhasil meraih 15 prestasi nasional dan internasional meski berjuang membiayai kuliahnya sebagai tukang bangunan.

Tekad kuat Alfath Qornain Isnan Yuliadi untuk melanjutkan pendidikan tinggi berbuah manis. Mahasiswa D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2022 ini telah mengukir belasan prestasi di kancah nasional dan internasional, seperti dilansir dari Medcom.

Alfath, yang berasal dari Klaten, merupakan mahasiswa pertama di keluarganya yang berhasil mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Lebih membanggakan lagi, ia adalah satu-satunya siswa dari SMK-nya yang berhasil lolos seleksi UGM.

Perjalanan Alfath menuju kampus impiannya tidaklah mudah. Ia harus menghadapi keraguan dari orang tua yang awalnya menginginkan dirinya langsung bekerja setelah lulus SMK. Namun, Alfath memiliki pandangan lain.

"Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah," kenang Alfath. Keyakinan tersebut perlahan meluluhkan hati kedua orang tuanya.

Tidak hanya itu, Alfath juga membiayai sendiri langkahnya menuju pendidikan tinggi. Sejak kelas dua SMK, ia sudah ikut bekerja di proyek bangunan bersama ayahnya. Dari menggali fondasi hingga mengangkat material, semua pekerjaan itu dijalaninya.

Dengan upah sekitar Rp50 ribu per hari, Alfath mengumpulkannya untuk biaya pendaftaran UTBK dan kebutuhan sekolah. "Saya enggak enak minta ke Bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah," tuturnya.

Di sela kesibukan bekerja dari pagi hingga sore, Alfath tetap menyisihkan waktu untuk belajar di malam hari. Menjelang ujian, ia mengatur jadwal empat hari bekerja dan tiga hari penuh di akhir pekan untuk fokus belajar.

Perjuangannya sempat diuji ketika ia mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari lantai dua proyek bangunan. Namun, pengalaman pahit itu justru semakin menguatkan tekadnya untuk tidak menyerah.

Momen pengumuman hasil seleksi UTBK menjadi titik balik dalam hidupnya. Ketika dinyatakan lolos ke UGM, Alfath langsung memeluk ibunya dan berlari menemui kakeknya, sosok yang paling ia ingat. "Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, 'Saya jadi kuliah'," kata Alfath.

Sang kakek sangat bangga karena Alfath adalah satu-satunya cucu yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, dengan harapan Alfath akan menjadi pembuka jalan bagi anggota keluarga lainnya.

Kehidupan kuliah di UGM membawa perubahan besar bagi Alfath. Dulunya seorang yang introvert dan hanya fokus pada akademik, kini ia aktif berorganisasi dan bahkan dipercaya memimpin Badan Semi Otonom (BSO) di Sekolah Vokasi, serta mengikuti berbagai kompetisi.

Hingga saat ini, Alfath telah memenangkan 15 perlombaan di tingkat nasional dan internasional, termasuk menjadi finalis pada kompetisi di Nanyang Technological University, Singapura. Prestasinya ini mengantarkannya meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM pada tahun 2025.

"Orang tua saya senang banget. Mereka enggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM," ujarnya. Kisah Alfath menjadi bukti bahwa latar belakang bukanlah batasan, melainkan motivasi untuk terus berkarya dan berprestasi.

"Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal," pungkasnya.

Recommended