Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dilaporkan membawa dampak signifikan bagi Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyampaikan bahwa eskalasi perang tersebut telah memicu berbagai masalah. Permasalahan yang muncul meliputi kenaikan harga avtur hingga bahan baku plastik, seperti dilansir dari Detik Finance.
Salah satu dampak nyata yang dirasakan adalah kesulitan mendapatkan karung untuk gabah. Zulhas menjelaskan bahwa ia menerima keluhan langsung dari Kalimantan Barat mengenai pasokan karung gabah yang terhambat. Kelangkaan ini terjadi karena karung gabah terbuat dari plastik, yang harganya kini mengalami lonjakan drastis akibat konflik.
Selain itu, jalur logistik global juga mengalami gangguan parah. Penutupan Selat Hormuz sebagai imbas perang memaksa rute transportasi laut berputar lebih jauh. Konsekuensinya adalah peningkatan biaya pengiriman dan perpanjangan waktu tempuh yang signifikan. Perjalanan yang semula memakan waktu 20 hari, kini bisa mencapai 60 hari, sementara rute 30 hari bisa menjadi 60 hari.
Situasi ini diperparah oleh kenaikan harga avtur, bahan bakar pesawat. Zulhas menyebutkan bahwa lonjakan harga avtur berpotensi menyebabkan kenaikan harga tiket pesawat hingga 13%. Hal ini merupakan efek langsung dari ketegangan di kawasan yang melibatkan AS, Iran, dan Israel.
Meskipun beberapa sektor mengalami dampak, Zulhas memastikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Ketersediaan stok beras dipastikan aman dari potensi gejolak harga maupun kelangkaan hingga tahun 2026, bahkan diproyeksikan hingga 2027. Menurut Zulhas, kesiapan Indonesia dalam menghadapi krisis global terbukti jauh lebih baik dibandingkan banyak negara lainnya.