Liga Super China 2026 Dibuka dengan Banyak Tim Minus Poin

Lebih dari separuh tim Liga Super China 2026 memulai musim dengan defisit poin akibat sanksi pengaturan skor.

Musim baru Chinese Super League (CSL) 2026 dimulai dalam kondisi yang tidak biasa. Lebih dari separuh tim peserta mengawali kompetisi dengan pengurangan poin, termasuk juara bertahan Shanghai Port dan runner-up musim lalu, Shanghai Shenhua.

Situasi ini merupakan dampak dari investigasi besar terkait pengaturan skor, perjudian, dan korupsi di sepak bola Tiongkok. CFA (Asosiasi Sepak Bola China) menyatakan langkah ini sebagai upaya untuk “menegakkan disiplin industri, memurnikan lingkungan sepak bola, dan menjaga kompetisi yang adil.”

Sanksi seumur hidup dijatuhkan kepada 73 orang yang terlibat pada Januari lalu. Selain itu, 13 klub dikurangi poinnya, di mana sembilan di antaranya bermain di CSL. Besaran pengurangan poin disesuaikan dengan tingkat keterlibatan, sifat pelanggaran, serta dampak sosial dari setiap transaksi ilegal yang dilakukan klub.

Sebagai akibatnya, beberapa tim memulai musim dengan posisi poin negatif. Shanghai Shenhua dan Tianjin Jinmen Tiger masing-masing mendapat pengurangan 10 poin. Sementara itu, Qingdao Hainiu dikurangi tujuh poin sebelum pertandingan melawan Yunnan Yukun.

Tim-tim lain seperti Shandong Taishan dan Henan memulai musim dengan pengurangan enam poin. Zhejiang, Wuhan Three Towns, Shanghai Port, dan Beijing Guoan masing-masing memulai dengan pengurangan lima poin. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan bagi klub-klub papan atas, yang harus mengejar ketertinggalan sejak awal musim.

Skandal ini turut menyeret nama mantan gelandang Everton dan pelatih timnas China, Li Tie, yang termasuk dalam daftar 73 orang yang dilarang beraktivitas di sepak bola seumur hidup. Tahun lalu, Li Tie mengakui keterlibatannya dalam pengaturan skor, penerimaan suap, dan pemberian suap untuk mendapatkan posisi pelatih utama timnas China.

Pada bulan Maret, Li Tie mengaku bersalah atas penerimaan suap senilai lebih dari 16 juta dolar AS. Tindakan ini dilakukannya sejak 2015 ketika masih menjadi asisten pelatih di Hebei China Fortune hingga 2021 saat mengundurkan diri sebagai pelatih tim nasional.

“Saya sangat menyesal. Seharusnya saya tetap rendah hati dan mengikuti jalan yang benar. Ada hal-hal tertentu yang, pada waktu itu, dianggap praktik umum dalam sepak bola,” ujar Li Tie.

Ia menambahkan, “Dengan mendapatkan ‘kesuksesan’ melalui cara yang tidak benar, sebenarnya membuat saya semakin tidak sabar dan ingin hasil cepat. Untuk mencapai performa baik, saya mempengaruhi wasit, menyuap pemain dan pelatih lawan, kadang melalui klub yang berurusan dengan klub lain.”

Li Tie juga mengakui bahwa kebiasaan buruk ini berkembang menjadi pola yang sulit dihilangkan. “Perilaku ini menjadi kebiasaan, dan akhirnya bahkan ada sedikit ketergantungan pada praktik-praktik tersebut,” tambahnya.

Dampak Skandal Bagi Liga

Pengurangan poin signifikan bagi banyak tim serta larangan seumur hidup bagi para pelaku utama memberikan tekanan tersendiri bagi CSL. Klub-klub papan atas kini harus memulai musim dengan defisit poin yang cukup besar, sementara reputasi liga turut tercoreng.

CFA menekankan bahwa sanksi ini penting untuk memulihkan integritas kompetisi. Semua pihak diharapkan dapat belajar dari skandal ini agar industri sepak bola China dapat kembali bersih dan kompetitif baik di level domestik maupun internasional.

Recommended