Liverpool dijadwalkan menjamu Paris Saint-Germain (PSG) dalam laga leg kedua perempat final Liga Champions 2025/2026 di Stadion Anfield pada pertengahan April 2026. Tuan rumah wajib meraih kemenangan dengan selisih minimal dua gol untuk menjaga asa lolos setelah menderita kekalahan 0-2 pada pertemuan pertama.
Defisit dua gol tersebut menempatkan skuat asuhan Arne Slot dalam posisi sulit, namun sejarah kompetisi Eropa mencatat klub ini berulang kali melakukan pembalikan keadaan dramatis. Dilansir dari Bola, tim Merseyside tersebut membutuhkan intensitas tinggi sejak menit awal guna mengejar ketertinggalan agregat dari raksasa Prancis.
Kekuatan mental PSG menjadi sorotan karena klub asal Paris itu tercatat beberapa kali gagal mempertahankan keunggulan besar pada fase gugur. Salah satu momen krusial terjadi pada musim 2016/2017 saat mereka tersingkir secara tragis oleh Barcelona meskipun sempat unggul telak di leg pertama.
Luis Enrique yang kini menukangi PSG harus mewaspadai catatan sejarah klubnya yang pernah ditaklukkan Manchester United dan Chelsea dalam situasi serupa. Statistik menunjukkan kerentanan PSG saat menghadapi tekanan lawan yang bermain menyerang secara total di hadapan pendukung sendiri.
Anfield diprediksi akan menjadi faktor penentu mengingat Liverpool berhasil memenangkan delapan dari sepuluh laga kandang terakhir mereka di kancah Eropa. Musim ini, The Reds juga sempat membuktikan ketangguhannya dengan melibas Galatasaray 4-0 setelah sempat tertinggal di laga sebelumnya.
"Arne Slot menegaskan bahwa peran fans akan sangat krusial dalam menciptakan malam magis lainnya di Anfield," kata laporan tersebut mengenai pentingnya dukungan suporter dalam laga hidup mati ini.
Inspirasi kebangkitan juga diambil dari memori semifinal 2019 ketika Liverpool mampu membalikkan defisit tiga gol saat melawan Barcelona. Saat itu, strategi cepat dan disiplin taktik membawa mereka menang 4-0 dan melaju ke partai puncak kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut.
Punggawa Liverpool seperti Dominik Szoboszlai, Florian Wirtz, dan Hugo Ekitike diharapkan mampu mereplikasi semangat juang generasi sebelumnya. Fokus utama tim kini tertuju pada pemulihan kebugaran pemain sebelum peluit sepak mula dibunyikan di hadapan publik sendiri.