Airen Wang, mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya (UAJ), berhasil menembus jajaran Top 8 Finalist dalam forum internasional East Asian Medical Students’ Conference (EAMSC) 2026 di Nepal. Pencapaian luar biasa ini dikonfirmasi dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Kamis, 28 April 2026.
Sebagaimana dilansir dari Medcom, prestasi tersebut diraih Airen setelah sebelumnya memenangkan posisi kedua sekaligus menjadi District Winner dalam kompetisi karya ilmiah pada Pre-Conference EAMSC 2026. Keberhasilan ini menjadi pembuktian atas perkembangan karakter dan akademik yang ia dapatkan pasca mengikuti program pertukaran pelajar.
Sebelum mencetak prestasi di tingkat Asia, Airen menjalani program student exchange di Leiden University Medical Center (LUMC), Belanda, selama tiga setengah bulan. Program yang berlangsung pada September hingga Desember 2024 tersebut memberikan dampak signifikan terhadap pola pikir dan keberaniannya dalam berkompetisi.
"Pengalaman di sana benar-benar membentuk cara berpikir aku jadi lebih terbuka dan berani," ujar Airen Wang, Mahasiswa FKIK Unika Atma Jaya. Ia menambahkan bahwa lingkungan belajar di Belanda yang interaktif mendorongnya untuk lebih aktif berdiskusi dan mandiri dalam memecahkan masalah.
Selama di Belanda, Airen mengikuti kurikulum medis yang setara dengan kampus asalnya sehingga proses akademik berjalan tanpa hambatan. Namun, perbedaan budaya belajar di Eropa yang menekankan pada keberanian bertanya menjadi faktor utama dalam penguatan rasa percaya dirinya saat kembali ke Indonesia.
Perubahan sikap tersebut kemudian disalurkan Airen melalui aktivitas di Asian Medical Students’ Association (AMSA). Melalui organisasi ini, ia mengasah kemampuan menyusun naskah ilmiah dan memperluas jejaring internasional sebelum akhirnya mewakili Indonesia di ajang EAMSC 2026.
Dalam kompetisi di Nepal, Airen mengusung karya ilmiah dengan tema kesehatan mental dan kesejahteraan (mental health and well-being). Isu global ini dipilih karena relevansinya yang tinggi terhadap tantangan yang dihadapi oleh kalangan mahasiswa maupun masyarakat luas saat ini.
Airen mengakui bahwa niat awal mengikuti pertukaran pelajar hanya didasari rasa penasaran setelah mendengar cerita dari kakak tingkatnya. Kini, ia mendorong rekan mahasiswa lainnya untuk tidak ragu mengambil kesempatan internasional demi pengembangan diri yang lebih maksimal.