Keputusan Manchester United (MU) dalam memilih manajer permanen pengganti Ruben Amorim berpotensi menjadi kesalahan besar. Muncul kekhawatiran bahwa klub berjuluk Setan Merah ini dapat membuat langkah keliru, terutama dengan kabar tidak akan merekrut Julian Nagelsmann.
Sebelumnya, pada Januari lalu, MU memutuskan untuk berpisah dengan Ruben Amorim. Posisi pelatih kepala kemudian diisi oleh Michael Carrick sebagai pelatih interim, yang mampu memberikan dampak positif bagi tim.
Carrick mencatatkan lima kemenangan dalam tujuh pertandingan pertamanya. Selama periode tersebut, MU berhasil mengalahkan tim-tim kuat seperti Arsenal, Manchester City, dan Everton. Kekalahan pertama baru diderita saat melawan Newcastle United.
Rangkaian hasil positif ini memperkuat posisi Setan Merah dalam perburuan tiket Liga Champions. Situasi ini juga dinilai mempermudah klub dalam menentukan manajer permanen berikutnya, dibandingkan jika mereka gagal bersaing di papan atas.
Sejak menunjuk pelatih interim, banyak nama dikaitkan dengan posisi manajer tetap di MU, salah satunya Julian Nagelsmann. Saat ini, pelatih asal Jerman tersebut menangani Timnas Jerman. Meskipun baru berusia 38 tahun, Nagelsmann memiliki reputasi sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan.
Dalam karier kepelatihannya, Nagelsmann pernah membawa RB Leipzig menjadi peserta reguler Liga Champions, menjuarai Bundesliga bersama Bayern Munichen, serta mengantar Jerman mencapai perempat final Euro 2024.
TEAMtalk melaporkan bahwa Nagelsmann siap kembali melatih di level klub. Kontraknya dengan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) akan berakhir setelah Piala Dunia 2026. Ia melihat pekerjaan di MU sebagai peluang ideal untuk kembali ke level klub.
Melalui perantara, Nagelsmann bahkan telah menyampaikan minatnya untuk menangani Setan Merah mulai musim panas ini. Meskipun memiliki rekam jejak yang kuat, MU disebut-sebut tidak menjadikannya pilihan utama. Klub lebih memilih pelatih yang berpengalaman di Premier League dan memahami tuntutan unik kompetisi tersebut.
Risiko Kesalahan Besar
Pendekatan MU dinilai berpotensi menjadi langkah keliru. Meskipun banyak kandidat tersedia, hanya sedikit yang terlihat cocok untuk membangun proyek jangka panjang di klub ini. Nagelsmann termasuk di antaranya. Ia dikenal menerapkan sepak bola menyerang, berani memainkan pemain muda, serta tidak ragu menyingkirkan nama besar jika performanya tidak memadai. Selain itu, ia terbiasa menangani tekanan besar setelah melatih dua klub terbesar di Jerman.
Mengabaikan Nagelsmann hanya karena belum memiliki pengalaman di Premier League dianggap sebagai keputusan yang kurang masuk akal. Pelatih seperti Pep Guardiola dan Jurgen Klopp juga datang ke Inggris tanpa pengalaman di Premier League, tetapi kemudian sukses besar.
Sebaliknya, pengalaman di liga tersebut tidak selalu menjamin keberhasilan. Mauricio Pochettino, misalnya, sudah cukup lama bekerja di Inggris, tetapi belum tentu dianggap sebagai sosok yang tepat untuk memimpin proyek besar di Old Trafford. Bahkan Carrick sebelumnya tidak memiliki pengalaman sebagai manajer utama sebelum menjalani periode impresifnya saat ini.
Dengan profil, filosofi permainan, serta potensinya membangun proyek jangka panjang, Nagelsmann adalah kandidat ideal untuk menciptakan era baru di Old Trafford. Jika MU mengabaikannya, petinggi klub berisiko membuat kesalahan besar dalam menentukan arah masa depan tim.