Sektor manufaktur Malaysia mengalami tekanan operasional yang signifikan pada awal Mei 2026 akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas rantai pasok global. Federasi Manufaktur Malaysia (FMM) melaporkan bahwa gangguan logistik ini telah berdampak langsung pada ketersediaan bahan baku dan kondisi finansial perusahaan.
Kondisi bisnis industri manufaktur dilaporkan terus melemah dalam beberapa pekan terakhir berdasarkan hasil pemantauan terbaru. Dilansir dari Medcom, survei yang melibatkan 225 perusahaan menunjukkan bahwa sekitar 72 persen responden mengaku performa bisnis mereka memburuk sejak awal April 2026.
FMM mencatat sebanyak 70 persen perusahaan manufaktur saat ini mengalami kendala serius dalam pengadaan stok bahan baku utama. Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa 29 persen responden hanya memiliki cadangan persediaan untuk kebutuhan produksi dua hingga tiga minggu ke depan.
Lonjakan biaya operasional menjadi beban tambahan bagi para pelaku industri setelah jalur pelayaran dialihkan melalui Tanjung Harapan. Data survei menunjukkan 87 persen responden melaporkan kenaikan biaya pengiriman, sementara 86 persen mengeluhkan durasi pengiriman barang yang menjadi jauh lebih lama.
Waktu pengiriman logistik menuju pasar Eropa kini tercatat mencapai 35 hingga 45 hari akibat perubahan rute tersebut. Padahal, dalam kondisi normal, durasi pengiriman barang ke wilayah tersebut biasanya hanya memakan waktu antara 25 sampai 30 hari.
Tekanan ini berdampak pada kesehatan finansial perusahaan, di mana 68 persen industri manufaktur mengaku mengalami masalah arus kas dan modal kerja. Sekitar 13 persen perusahaan bahkan berada dalam kondisi kritis yang menghambat pembayaran kepada pemasok serta pemenuhan pesanan pelanggan.
Fenomena ini mulai mengancam stabilitas lapangan kerja karena 28 persen perusahaan telah atau berencana melakukan penyesuaian jumlah karyawan. Langkah pengurangan tenaga kerja diambil sebagai respons atas penurunan volume produksi dan melemahnya permintaan pasar global terhadap produk manufaktur.
Pihak FMM menegaskan bahwa dampak konflik saat ini telah meluas melampaui isu biaya logistik semata. Gangguan tersebut kini merambat pada aspek produksi yang lebih luas, tekanan finansial yang mendalam, hingga potensi pengangguran massal di sektor industri Malaysia.