Persaingan ketat di papan bawah BRI Super League 2025/2026 menghadirkan tekanan besar bagi para pelatih, termasuk Mario Lemos dari Persijap Jepara. Kondisi timnya yang masih berada di zona rawan membuat juru taktik asal Portugal ini merasakan kombinasi harapan dan ketakutan.
Hingga pekan ke-26, Laskar Kalinyamat, julukan Persijap, menempati posisi ke-14 dengan raihan 22 poin. Jumlah tersebut hanya berjarak dua poin dari Madura United yang berada di urutan ke-16, posisi teratas dari zona degradasi. Di bawahnya, ada Semen Padang (20 poin) dan PSBS (18 poin).
Situasi ini berarti setiap hasil pertandingan menjadi krusial. Jika Persijap terpeleset, peluang tim lain untuk menggeser mereka sangat terbuka. Mario Lemos mengungkapkan strategi uniknya dalam menyikapi tekanan ini, seperti dilansir dari Bola.
Lemos memilih untuk tidak menonton langsung pertandingan tim-tim rivalnya. "Saya pilih tidur daripada nonton live pertandingan para tim rival. Setelah bangun tidur atau esok harinya, saya baru lihat skor pertandingan mereka. Pikiran saya harus fresh dan tak mau terganggu jalannya pertandingan tim-tim itu," ungkap Lemos.
Metode ini, menurut pelatih berusia 39 tahun tersebut, membantunya tetap fokus pada persiapan timnya, yang diperkuat Wahyudi Hamisi dkk. "Baru tadi pagi saya tahu kalau Semen Padang dan Madura United dikalahkan Persib dan Borneo FC. Sebagai rival, saya tentu sangat senang mereka kalah," ujarnya.
Ia menambahkan, "Daripada nonton mereka bertanding, saya memilih konsentrasi penuh bagaimana cara melawan Persik." Lemos pun menunjukkan kelegaan setelah Persijap berhasil mencuri satu poin dengan menahan imbang Persik tanpa gol di Stadion Brawijaya, Kediri, pada Senin (6/4/2026).
"Tiap poin sangat berarti di saat genting pada akhir musim ini. Apalagi kami dapat poin di luar kandang. Kami akan terus berusaha melakukan itu. Harus menang di kandang dan mencuri poin di laga tandang," jelasnya.
Selain usaha dan fokus taktis, Mario Lemos juga mengakui adanya dimensi spiritual dalam pendekatannya. "Manusia harus berusaha dan berdoa. Dalam keadaan terjepit, kita harus berdoa untuk kebaikan kita. Sebelum tidur, saya selalu minta kepada Tuhan yang terbaik untuk Persijap," katanya.
Lemos juga mengungkapkan memiliki 'perasaan takhayul' mengenai hasil pertandingan. Ia bahkan mengaku berdoa agar tim rival mendapatkan hasil yang tidak memuaskan. "Maaf, saya juga berdoa tim rival tak dapat hasil bagus di pertandingan. Saya rasa itu sangat manusiawi. Kita boleh minta apa saja kepada Tuhan. Saya kira orang lain juga melakukan itu," tuturnya.
Pelatih tersebut merasa bersyukur karena usaha dan doanya pekan ini dikabulkan. Tim-tim seperti PSBS, Semen Padang, dan Madura United menelan kekalahan, sementara Persis mampu mengimbangi PSM 1-1. "Pekan ini saya bahagia," kata Lemos.
Namun, ia menyadari tantangan berikutnya. "Tapi pekan berikutnya, saya tak tahu. Apakah saya akan senang atau sedih. Karena Persijap akan menghadapi Bhayangkara FC di kandang. Kami harus bekerja keras dan berdoa sungguh-sungguh agar bisa mengalahkan tim kuat seperti Bhayangkara FC," pungkas Mario Lemos.