Mendagri Sebut Tingkat Inflasi Februari 2026 Terkendali di 4,76 Persen

Mendagri Tito Karnavian menyatakan inflasi Indonesia stabil pada Februari 2026 sebesar 4,76% yoy, dipicu berakhirnya diskon tarif listrik 2025.

Tingkat inflasi di Indonesia pada Februari 2026 tercatat stabil, mencapai 4,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, menegaskan bahwa angka ini masih berada dalam kondisi terkendali.

Menurut Tito, inflasi sebesar 4,76 persen tersebut tidak sepenuhnya merefleksikan tekanan harga yang dirasakan masyarakat. Peningkatan angka inflasi mayoritas disebabkan oleh faktor teknis, yaitu berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik PLN yang berlaku pada Januari dan Februari tahun sebelumnya, seperti dilansir dari Detik Finance.

Diskon tarif listrik tersebut, yang diberikan pemerintah untuk pelanggan dengan daya 2.200 VA ke bawah, mencakup sekitar 80 juta pelanggan. Kebijakan ini bahkan sempat membuat Indonesia mengalami deflasi pada periode sebelumnya.

"Angka inflasi masih di angka yang terkendali. Di luar listrik itu adalah 2,5%, listrik angkanya 2,26% di Februari karena pada waktu Februari tahun 2025 itu, bisa dilihat dari angka itu, di 2025 itu ada subsidi Januari-Februari 2025 itu subsidi 2.200 watt ke bawah itu 80 juta orang," terang Tito dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (30/3/2026).

Ia melanjutkan, diskon tarif listrik tersebut tidak dilanjutkan sejak Maret 2025. Akibatnya, ketika perhitungan inflasi dilakukan secara tahunan, tarif listrik pada Februari 2026 dibandingkan dengan Februari 2025 terlihat mengalami kenaikan yang signifikan.

Mendagri menjelaskan bahwa penyebab utama kenaikan ini hanyalah berakhirnya subsidi listrik. "Penyebabnya satu aja, subsidi listrik, tapi Maret sudah nggak disubsidi lagi. Sehingga ketika mau dihitung year on year, tahun ke tahun, year on year-nya dihitung harga listriknya di bulan Februari 2026 dibandingkan dengan Februari 2025 seolah terjadi peningkatan padahal tidak," jelas Tito.

Kontribusi tarif listrik terhadap total inflasi tercatat sekitar 2,26 persen. Oleh karena itu, jika dikurangi dampak subsidi listrik, angka inflasi riil Indonesia berada pada level 2,5 persen. "Jadi 4,76% kalau kurang 2,26%, di luar subsidi listrik, (inflasi) kita pada angka 2,5%. 2,5% itu angka yang sangat stabil," pungkasnya.

Recommended