Michele Di Gregorio Nonaktifkan Komentar Akibat Hujatan

Kiper Juventus, Michele Di Gregorio, menonaktifkan kolom komentar media sosialnya usai menerima hujatan terkait performanya.

Kiper Juventus, Michele Di Gregorio, mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan kolom komentar di media sosialnya. Keputusan ini diambil setelah ia menerima berbagai hujatan dan ancaman, yang bahkan menyasar keluarganya, menyusul performa yang dinilai kurang memuaskan dalam beberapa pertandingan terakhir.

Juventus tengah menghadapi periode sulit di bulan Februari. Dari lima pertandingan terakhir di berbagai kompetisi, mereka menelan empat kekalahan. Rentetan hasil negatif tersebut meliputi kekalahan 0-3 dari Atalanta di Coppa Italia, kekalahan kontroversial 2-3 dari Inter Milan di Derby d’Italia, kekalahan telak 2-5 dari Galatasaray di Liga Champions, serta kekalahan 0-2 dari Como 1907 di Serie A.

Di Gregorio menjadi sorotan utama di tengah performa buruk Juventus. Penampilannya di bawah mistar gawang dianggap kurang meyakinkan, dengan beberapa gol yang seharusnya dapat ia antisipasi. Kritik terhadapnya tidak hanya datang setelah pertandingan melawan Inter dan Galatasaray, tetapi juga setelah duel melawan Borussia Dortmund, Sporting CP, Fiorentina, dan Lazio.

Kritik awal masih dalam batas wajar. Namun, situasi berubah ketika beberapa oknum suporter mulai melontarkan hinaan personal. Beberapa menyebutnya "Interista" karena lahir di Milan dan pernah menimba ilmu di akademi Inter. Tak sedikit pula yang melabelinya sebagai "liability" hingga umpatan kasar lainnya.

Situasi semakin mengkhawatirkan ketika Di Gregorio dan keluarganya menerima ancaman serius. Demi menjaga privasi dan keselamatan, kiper tersebut memutuskan untuk menutup kolom komentar Instagram-nya. Langkah serupa sebelumnya juga diambil bek Inter, Alessandro Bastoni, setelah mendapat serangan verbal dari oknum suporter usai Derby d’Italia awal bulan ini.

Posisi penjaga gawang memang rentan terhadap sorotan. Satu kesalahan kecil dapat berakibat fatal dan menjadi perbincangan panjang. Namun, batas profesionalisme telah dilanggar ketika kritik berubah menjadi ancaman personal. Kini, tantangan Di Gregorio adalah membuktikan kualitasnya di lapangan dan menjaga fokus di tengah tekanan besar dari luar stadion.

Recommended