Kemerosotan performa Francesco Pecco Bagnaia dalam dua musim terakhir memicu tanda tanya besar di garasi MotoGP. Seperti dilansir dari Bola, legenda balap motor Mick Doohan mengaku heran melihat sang juara dunia dua kali itu kesulitan bersaing di barisan depan.
Grafik penampilan Bagnaia menurun tajam setelah sempat bersaing memperebutkan takhta juara selama empat tahun berturut-turut. Pembalap asal Italia tersebut hanya mampu menyelesaikan musim kompetisi 2025 di peringkat kelima klasemen akhir.
Tren negatif ini berlanjut pada awal musim MotoGP 2026 yang menjadi rapor merah baginya. Dari tiga seri balapan yang sudah bergulir, Bagnaia terpuruk di posisi ke-9 klasemen sementara dengan raihan 25 poin, mencatatkan awal musim terburuknya sejak 2022.
Performa Bagnaia di atas lintasan sepanjang musim ini memang belum memperlihatkan hasil memuaskan. Pada balapan pembuka di MotoGP Thailand, ia harus memulai start dari posisi ke-13 dan hanya mampu menyudahi perlombaan di peringkat ke-9.
Hasil buruk kembali menimpa Bagnaia saat mengaspal di MotoGP Brasil setelah ia gagal finis akibat terjatuh. Padahal dalam sesi kualifikasi, pembalap utama Ducati ini mengamankan posisi start ke-11.
Sementara pada seri ketiga di MotoGP Amerika Serikat, Bagnaia sebenarnya sukses mengamankan posisi keempat saat kualifikasi. Namun, posisinya melorot hingga finis di urutan ke-10 pada balapan utama akibat kendala ban belakang setelah menyelesaikan delapan putaran.
Mick Doohan yang mengoleksi lima gelar juara dunia kelas 500cc melihat ada dua faktor utama di balik merosotnya performa Bagnaia. Doohan mempertanyakan apakah hal ini disebabkan oleh proses adaptasi teknis atau tekanan pada sisi psikologis.
Bagnaia dinilai kesulitan mengendalikan motor Ducati GP25 pada musim lalu serta motor GP26 pada musim ini. Kendala klasik yang dihadapinya sejak tahun 2025 terkait sektor pengereman dan kecepatan di tikungan masih belum teratasi hingga kini.
Di sisi lain, kehadiran Marc Marquez di tim pabrikan Ducati pada tahun 2025 dianggap Doohan turut memengaruhi mental Bagnaia. Terlebih lagi, Marquez langsung tampil mendominasi dengan merebut 11 kemenangan dari 18 seri pada musim pertamanya bersama Ducati.
"I don't know what is going on with Bagnaia, but he has an incredible talent. I don't know if it's because of the bike, or the impact of Marc Marquez joining. But you can't argue with how dominant he was when he won two world titles," ujar Doohan kepada Marca.
Penurunan performa Bagnaia sejatinya mulai terindikasi sejak akhir musim 2024. Walaupun mampu mengemas 11 kemenangan pada balapan hari Minggu, ia harus merelakan gelar juara dunia direbut oleh Jorge Martin dengan selisih tipis 10 poin.
Kegagalan memperebutkan takhta juara tersebut dikabarkan terus membebani pikiran Bagnaia, bahkan sepanjang masa libur musim dingin. Saat berlaga di MotoGP Brasil lalu, Bagnaia pun mengaku masih bingung karena kehilangan kecepatan saat menggunakan ban Michelin kompon keras.