Kembalinya Brasil ke kalender MotoGP pada musim 2026 menjadi sorotan utama di awal tahun ini. Negara tersebut dipastikan akan menjadi tuan rumah seri kedua yang dijadwalkan berlangsung pada 20–22 Maret 2026, seperti dilansir dari Bola.
Perhelatan balapan tersebut akan dilaksanakan di Autódromo Internacional Ayrton Senna, Goiânia. Kehadiran lintasan ini menandai kembalinya Brasil dalam gelaran balap motor paling bergengsi di dunia setelah absen cukup lama.
Sirkuit di Goiânia yang tergolong baru bagi seluruh pembalap dan tim, diperkirakan akan menghadirkan dinamika berbeda. Minimnya data teknis membuat para pembalap harus beradaptasi dengan cepat sejak sesi latihan bebas perdana.
Situasi ini berpotensi mengacak peta persaingan di awal musim. Tidak hanya kecepatan motor, kemampuan memahami karakter aspal, tikungan, hingga perilaku ban juga akan menjadi faktor penting penentu hasil balapan.
Di tengah situasi penuh ketidakpastian tersebut, dua pembalap Honda HRC Castrol, Joan Mir dan Luca Marini, menyambut tantangan ini dengan optimisme sekaligus kewaspadaan. Mereka mempersiapkan diri untuk balapan yang belum pernah mereka jajal sebelumnya.
Joan Mir, juara dunia MotoGP 2020, mengakui bahwa ia belum memiliki gambaran jelas tentang karakteristik lintasan Autódromo Internacional Ayrton Senna. Baginya, balapan di Brasil akan menjadi pengalaman yang sepenuhnya baru.
Dengan minimnya pengalaman di trek tersebut, Mir memilih bersikap realistis. Ia menilai bahwa semua pembalap akan memulai dari titik yang sama. "Saya tidak tahu apa yang bisa diharapkan dari Brasil karena kami belum pernah ke sana. Satu yang pasti, karena sirkuit ini baru bagi semua orang, pasti akan ada kejutan yang terjadi," ujar Mir saat menghadiri acara Astra Honda Motor di Bali, Selasa (3/3/2026).
Menurut Mir, kunci performa di sirkuit baru sangat bergantung pada kemampuan tim menemukan setelan motor yang tepat dalam waktu singkat. Hal ini semakin penting mengingat faktor ban juga sangat memengaruhi performa motor di lintasan.
Pembalap asal Spanyol itu menyoroti pengalaman pada seri sebelumnya di Thailand. Penggunaan konstruksi ban Michelin yang berbeda sempat menyulitkan tim dalam mencari performa optimal kala itu.
Mir berharap penggunaan konstruksi ban standar di trek berikutnya, seperti Austin, Jerez, hingga sirkuit baru di Brasil, dapat membuat performa motor Honda RC213V tampil lebih kompetitif.
Luca Marini Fokus pada Adaptasi Cepat
Pendapat serupa disampaikan oleh rekan setim Mir, Luca Marini. Pembalap asal Italia ini menilai tantangan terbesar di sirkuit baru adalah memahami kondisi lintasan secepat mungkin sejak hari pertama balapan.
Marini mengaku telah mendapatkan gambaran awal mengenai Autódromo Internacional Ayrton Senna melalui presentasi pihak penyelenggara MotoGP. Dari pemaparan tersebut, ia menilai trek di Goiânia telah dipersiapkan dengan standar memadai.
"Penyelenggara MotoGP sudah menunjukkan semua videonya kepada kami. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah mengadakan balapan di sana dengan motor Superbike dan semuanya berjalan dengan semestinya," kata Marini.
Meskipun demikian, Marini menegaskan bahwa standar keamanan untuk balapan MotoGP jauh lebih ketat dibandingkan kategori lain. Ini terutama berkaitan dengan area luar lintasan atau run-off area yang harus mampu meredam kecepatan motor MotoGP modern yang semakin tinggi.
Menurut Marini, kehadiran sirkuit baru justru membuka peluang bagi tim-tim untuk mengukur kembali kekuatan masing-masing. Hal tersebut juga penting menjelang perubahan regulasi besar yang akan mulai berlaku pada musim 2027.
"Kami akan berada di sana untuk lebih memahami situasi aspal dan tikungan saat kami tiba. Selalu ada peluang baru ketika kami balapan di trek baru, dan kami akan mencoba melakukan yang terbaik untuk bertarung memperebutkan posisi lima besar," tutur Marini.
Sejarah Kembali Terukir untuk Brasil
Kembalinya Brasil ke kalender MotoGP juga memiliki makna historis bagi ajang balap motor kelas utama ini. Negara tersebut pernah menjadi salah satu tuan rumah rutin pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Saat itu, balapan digelar di Sirkuit Jacarepaguá, Rio de Janeiro, yang menjadi lokasi MotoGP antara 1995 hingga 2004. Lintasan tersebut cukup ikonik bagi para penggemar balap motor karena kerap menghadirkan duel menarik.
Namun, sirkuit Jacarepaguá kini sudah tidak digunakan lagi untuk balapan. Area bekas lintasan tersebut telah beralih fungsi menjadi kompleks olahraga Parque Olímpico do Rio de Janeiro.
Lokasi Autódromo Internacional Ayrton Senna di Goiânia juga cukup jauh dari bekas sirkuit tersebut. Jika ditempuh melalui jalur darat, jarak antara Rio de Janeiro dan Goiânia mencapai sekitar 1.305 kilometer.
Dengan hadirnya lintasan baru di Goiânia, Brasil kembali membuka lembaran baru dalam sejarah MotoGP. Balapan di sana tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga kesempatan menghadirkan tantangan segar bagi para pembalap dan tim di musim 2026.