Aktivitas perdagangan di pusat tekstil Pasar Cipadu, Kota Tangerang, terpantau mengalami kelesuan parah pada Kamis (15/4/2026) akibat pergeseran pola belanja konsumen dan dampak ekonomi pascapandemi yang berkepanjangan.
Kondisi pusat belanja legendaris ini kian memprihatinkan karena sepinya pengunjung yang datang langsung ke lokasi untuk melakukan transaksi pembelian bahan pakaian.
Dilansir dari Detik Finance, para pedagang melaporkan penurunan omzet yang sangat signifikan mencapai lebih dari 70 persen jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020.
Ade, seorang penjaga toko kain di kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa pemasukan harian yang dahulu bisa mencapai Rp40 juta kini merosot tajam menjadi rata-rata hanya Rp1 juta per hari.
"Dulu bisa Rp 40 juta sehari, sekarang paling sejutaan sehari," kata Ade saat memberikan keterangan mengenai kondisi tempat usahanya kepada Detik Finance.
Selain faktor peralihan ke platform belanja daring, penurunan daya beli dari sektor industri seperti pabrik-pabrik yang mengurangi frekuensi pemesanan seragam turut memperparah keadaan para pelaku usaha di Cipadu.
Muklis, pedagang kain yang telah bertahan sejak awal tahun 2000-an, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku tekstil akibat konflik Timur Tengah kini bukan lagi menjadi persoalan utama bagi mereka.
Menurutnya, ketiadaan pembeli jauh lebih mengkhawatirkan daripada fluktuasi harga bahan karena banyak pedagang yang sudah mulai menutup gerai mereka satu per satu.
"Ini saya toko kemarin ada lima, ini sudah dikurangi jadi dua. Dikurangin semua, di sini sudah banyak toko-toko yang ditinggal," ujar Muklis.
Saat ini sebagian besar pedagang yang masih bertahan hanya mengandalkan pesanan melalui layanan pesan singkat dari pelanggan lama untuk menyambung keberlangsungan usaha mereka.