Yamaha memasuki babak baru dalam sejarahnya. Sorotan tertuju pada Paolo Pavesio, Managing Director Yamaha Motor Racing, seiring dengan rencana penggunaan mesin empat silinder atau V4 pada MotoGP 2026.
Pavesio mengambil alih peran penting yang sebelumnya diemban oleh Lin Jarvis, sosok yang sangat identik dengan kesuksesan Yamaha di MotoGP.
Mulai MotoGP 2025, Paolo Pavesio resmi menggantikan Lin Jarvis. Proyeknya di Yamaha akan benar-benar diuji pada musim 2026.
Lin Jarvis dikenal sebagai arsitek kejayaan Yamaha di era 2000-an hingga awal 2010-an, terutama bersama Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Ia juga berperan dalam keberhasilan Fabio Quartararo meraih gelar juara dunia MotoGP pada 2021.
Pada tahun 2024, jasa terakhir Lin Jarvis sebagai direktur tim Yamaha adalah mengamankan kontrak baru Fabio Quartararo dan menjalin kerjasama tim satelit dengan Pramac Racing.
Harapan besar tertumpu pada Paolo Pavesio, yaitu menemukan solusi untuk motor Yamaha YZR-M1 agar Fabio Quartararo dapat kembali bersaing memperebutkan gelar juara dunia MotoGP.
Kegagalan mewujudkan hal ini akan dianggap sebagai kemunduran besar bagi Yamaha. Apalagi, potensi kehilangan Quartararo pada tahun 2027 akan menjadi catatan kelam bagi manajemen Yamaha di bawah kepemimpinan Paolo Pavesio.
Di tengah tekanan yang ada, Pavesio memiliki peluang besar untuk membalikkan keadaan. Salah satu langkah strategisnya adalah penunjukan Toprak Razgatlioglu, yang akan memperkuat tim satelit Pramac pada MotoGP 2026.
Pavesio bukanlah orang baru bagi Razgatlioglu. Keduanya pernah bekerja sama di World Superbike (WSBK) bersama Yamaha, termasuk saat Razgatlioglu meraih gelar juara dunia pada 2021.
Hubungan dekat ini mempermudah jalan Razgatlioglu menuju MotoGP. Pengalaman Razgatlioglu dengan ban Pirelli, ditambah peralihan ke mesin V4 serta penerapan regulasi baru MotoGP 2027, berpotensi menjadi kombinasi yang ideal.
Jika semua berjalan lancar, Razgatlioglu berpotensi untuk bersaing di level juara dunia.
Keberhasilan membawa Razgatlioglu ke MotoGP merupakan langkah besar bagi Yamaha. Jika diikuti dengan prestasi di lintasan, hal tersebut akan mengukuhkan Paolo Pavesio sebagai pemimpin baru Yamaha di ajang balap motor paling bergengsi di dunia.
Meski Yamaha tengah berada dalam fase transisi, era baru kejayaan bukan hal yang mustahil dengan langkah strategis yang tepat.
Pavesio sendiri menargetkan tahun 2027 sebagai waktu yang realistis bagi Toprak, seiring dengan perubahan regulasi radikal di MotoGP, termasuk penggunaan ban Pirelli yang sudah sangat dikenalnya.
"Masuk ke MotoGP di usianya saat ini, dan dengan kematangan olahraganya, akan memungkinkannya untuk mengatasi tekanan," kata Pavesio.
"Lagipula, ia memenangkan tiga gelar World Superbike-nya setelah melalui tantangan yang sulit. Bagi saya, ini adalah poin kunci yang perlu digarisbawahi."
"Saya tahu dia memahami kompleksitas tantangan tersebut, sama seperti dia menyadari tujuan realistis untuk tahun 2026, yang diarahkan untuk membangun tahun 2027," lanjutnya.