Pemanggilan Cahya Supriadi ke Timnas Indonesia dalam FIFA Series 2026 memicu diskusi di kalangan penggemar Garuda. Komposisi 24 pemain pilihan John Herdman dianggap menarik untuk diperhatikan, namun juga menuai perdebatan.
Keputusan pelatih asal Inggris tersebut memasukkan empat nama penjaga gawang, yang dianggap berlebihan oleh sebagian pihak. Cahya Supriadi menjadi sorotan utama.
Bukan karena kemampuannya diragukan, melainkan karena kiper PSIM Yogyakarta ini dinilai belum mampu bersaing dengan tiga kiper senior: Emil Audero, Maarten Paes, dan Nadeo Argawinata.
Jumlah empat kiper dianggap terlalu banyak untuk turnamen yang hanya memainkan dua pertandingan. Beberapa pihak menilai Cahya Supriadi tidak akan mendapatkan kesempatan bermain dan lebih baik slot tersebut diberikan kepada pemain di sektor tengah atau depan.
Toni Ho, pengamat sepak bola senior asal Makassar, berpendapat, "Kenapa harus empat kiper? Padahal, tiga saja sudah cukup. Daripada mubazir, seharusnya satu slot bisa untuk menambah pemain di sektor tengah atau depan."
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Hermansyah, mantan kiper Timnas Indonesia era 1980-an. Ia berpendapat bahwa pemilihan Cahya Supriadi adalah bagian dari regenerasi penjaga gawang Timnas Indonesia.
Saat ini, usia Emil Audero dan Nadeo Argawinata adalah 29 tahun, sementara Maarten Paes berusia 27 tahun, yang mulai memasuki usia yang tidak lagi muda. Cahya Supriadi sendiri masih berusia 23 tahun dan merupakan kiper utama di Timnas Indonesia U-23.
Meskipun Emil Audero, Nadeo, dan Maarten Paes bermain reguler di klub masing-masing, regenerasi di sektor penjaga gawang Timnas Indonesia dianggap penting untuk terus dilakukan.
Hermansyah menjelaskan, "John Herdman tak menjelaskan alasan soal Cahya Supriadi. Tapi, menurut analisis saya, pemilihan dia untuk regenerasi kiper Timnas Indonesia. Saya kira keputusan John Herdman juga objektif karena prestasi Cahya Supriadi musim ini juga sangat bagus. Momentum ini yang harus terus ditingkatkan lagi."
Hermansyah menambahkan, John Herdman perlu memasukkan nama Cahya Supriadi untuk ditempa lebih matang lagi.
"Di antara kiper muda seusianya, saya kira Cahya Supriadi yang terbaik. Makanya, dia harus ditingkatkan kemampuannya untuk jangka panjang. Dia kemungkinan kecil main di FIFA Series. Tapi, dengan masuk tim definitif, Cahya Supriadi akan punya wawasan permainan level senior," lanjutnya.
Hermansyah juga menekankan pentingnya Cahya Supriadi mendapatkan pelatihan dari pelatih kiper yang mumpuni.
"Cahya Supriadi harus ditangani pelatih kiper lain. Semakin banyak digembleng pelatih berbeda, maka ilmu dan levelnya akan meningkat lagi. Ini kesempatan dia dapat ilmu dari pelatih kiper senior. Dia juga bisa mengamati dan diskusi langsung dengan Emil Audero dan Maarten Paes, bagaimana agar bisa jadi kiper hebat," tuturnya.
Cahya Supriadi diharapkan dapat memanfaatkan pemanggilan ini untuk memantapkan posisinya di Timnas Indonesia Senior. Kesempatan itu semakin terbuka setelah John Herdman mencoret Ernando Ari.
"Semua tergantung Cahya Supriadi, apakah dia mau belajar dan digembleng keras untuk jadi kiper masa depan Timnas Indonesia nanti," ucapnya.