Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan lonjakan kasus campak dengan temuan 8.224 kasus suspek dan 572 kasus terkonfirmasi di 11 provinsi hingga Minggu (3/5/2026). Data tersebut menunjukkan adanya 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek yang tersebar di 17 kabupaten dan kota di seluruh tanah air.
Dilansir dari Detik iNET, tren kenaikan ini melanjutkan kondisi serius pada tahun 2025 yang mencatatkan total 63.769 kasus suspek. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11.094 kasus terkonfirmasi melalui pengujian laboratorium dengan angka kematian mencapai 69 jiwa atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,1 persen.
Hingga memasuki minggu ketujuh tahun 2026, otoritas kesehatan mencatat empat kasus kematian akibat campak. Meski secara persentase CFR mengalami penurunan menjadi 0,05 persen, penyebaran virus ini tetap diwaspadai karena sifat penularannya yang sangat agresif di lingkungan masyarakat.
Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan, menegaskan bahwa manusia merupakan satu-satunya inang alami virus ini. Penyakit ini disebabkan oleh virus RNA beruntai tunggal yang termasuk dalam genus Morbillivirus.
"Begitu menularnya sehingga digambarkan seseorang yang tidak pernah diimunisasi dapat terinfeksi hanya dengan memasuki ruangan tempat seseorang yang terinfeksi baru saja berada," kata Harimat Hendarwan, Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN.
Penularan utama terjadi melalui percikan cairan atau droplet dari saluran pernapasan saat penderita batuk atau bersin. Partikel virus tersebut memiliki kemampuan bertahan hidup di udara maupun pada permukaan benda selama kurang lebih dua jam.
Data riset menunjukkan bahwa sekitar 90 persen individu yang belum mendapatkan imunisasi berisiko tinggi tertular jika terpapar virus. Selain itu, satu pasien positif campak secara statistik dapat memicu infeksi sekunder hingga kepada 18 orang di sekitarnya.
Masa inkubasi penyakit ini umumnya berlangsung antara 10 hingga 14 hari dengan gejala awal berupa demam tinggi. Selain demam, penderita biasanya mengalami batuk, pilek, serta konjungtivitis sebelum munculnya ruam merah pada seluruh permukaan kulit.
Identifikasi klinis juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan bintik Koplik di dalam rongga mulut yang muncul pada 60 hingga 70 persen pasien. Tanda khusus ini menjadi pembeda utama antara campak dengan penyakit ruam lainnya seperti rubella atau demam berdarah.
Diagnosis akhir tetap memerlukan konfirmasi laboratorium melalui deteksi antibodi IgM dengan metode ELISA atau deteksi RNA virus menggunakan RT-PCR. Langkah ini diambil untuk memastikan akurasi karena gejala campak seringkali menyerupai infeksi virus lainnya.