PepsiCo bersama National Geographic Society secara resmi meluncurkan inisiatif pendanaan baru yang berfokus pada riset pertanian regeneratif global. Program ini dirancang untuk mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan, mulai dari pemulihan kondisi lahan hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Seperti diberitakan oleh Medcom, pendanaan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif yang menargetkan tanaman pangan utama di berbagai wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Para peneliti yang terlibat dalam program ini merupakan bagian dari komunitas National Geographic Explorers, sebuah jaringan global yang terdiri dari ilmuwan, pendidik, dan pelaku konservasi yang dipilih dari ratusan proposal.
Salah satu proyek riset penting yang mendapat dukungan datang dari Indonesia, yaitu program LIFE (Land Innovation for Food and Empowerment). Inisiatif ini memadukan sistem tumpang sari jagung dengan sacha inchi, tanaman yang dikenal sebagai "superfood" karena kaya akan Omega 3, 6, dan 9, serta memiliki nilai gizi tinggi.
Peneliti Indonesia, Al Greeny S. Dewayanti, mengembangkan pendekatan inovatif berbasis teknologi yang mengintegrasikan analisis DNA tanah dengan aplikasi AI. Tujuannya adalah untuk memulihkan kualitas lahan yang terdegradasi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan para petani.
Metode ini memudahkan petani dalam memahami kondisi tanah mereka. Melalui teknologi metabarcoding DNA, mikroorganisme dalam tanah akan dianalisis dan hasilnya diterjemahkan oleh sistem AI menjadi rekomendasi praktis. Rekomendasi tersebut meliputi kebutuhan kompos atau tingkat kesiapan lahan untuk proses penanaman.
Pendekatan ini membuat informasi yang sebelumnya hanya dapat diakses melalui laboratorium kini tersedia langsung bagi petani dalam bentuk panduan yang mudah dicerna dan diterapkan di lapangan.
Selain aspek teknis, proyek ini juga membawa dampak sosial yang signifikan. Inisiatif ini melibatkan kelompok perempuan sebagai agen penggerak utama, baik dalam pengelolaan koperasi maupun proses pengolahan sacha inchi menjadi produk bernilai tambah seperti minyak. Model ini diharapkan dapat menaikkan pendapatan dan memperkuat peran perempuan dalam sektor pertanian.
Program riset ini merupakan komponen kunci dari inisiatif Food for Tomorrow, sebuah kemitraan global antara PepsiCo dan National Geographic Society yang diluncurkan pada tahun 2025. Program ini bertujuan mendorong transformasi sistem pangan melalui pendekatan ilmiah, edukasi, dan komunikasi yang efektif.
Ian Miller, Chief Science and Innovation Officer National Geographic Society, menekankan pentingnya pertanian regeneratif sebagai fokus strategis baru. Menurutnya, pendekatan ini memiliki keterkaitan erat dengan berbagai isu global, mulai dari perlindungan ekosistem hingga upaya pengurangan emisi karbon.
Sementara itu, Jim Andrew, Executive Vice President dan Chief Sustainability Officer PepsiCo, menyoroti peran krusial petani dalam menghadapi tekanan perubahan iklim. Ia menyatakan bahwa praktik berbasis sains adalah kunci untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
“Petani hanya memiliki satu kesempatan setiap musim tanam. Karena itu, pendekatan berbasis data dan sains menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan,” ujar Jim Andrew.
PepsiCo sendiri telah menargetkan penerapan praktik pertanian regeneratif di lahan seluas 10 juta hektare secara global hingga tahun 2030. Selain di Indonesia, proyek serupa juga sedang berjalan di beberapa negara lain, termasuk Spanyol, Ethiopia, dan Amerika Serikat, dengan fokus pada komoditas seperti gandum, kopi, kedelai, hingga kentang.
Dalam kurun waktu dua tahun ke depan, para peneliti akan melaksanakan uji lapangan dan mengembangkan solusi yang dapat diaplikasikan secara luas. Hasil dari program ini tidak hanya berupa riset ilmiah, tetapi juga akan disebarluaskan melalui berbagai platform, mulai dari laporan, kampanye digital, hingga pameran multimedia. Melalui pendekatan komprehensif ini, para peneliti tidak hanya mendokumentasikan perubahan dalam praktik pertanian, tetapi juga secara aktif berkontribusi dalam membentuk masa depan sistem pangan global yang lebih berkelanjutan.