Donald Trump dan Xi Jinping Bahas Kerja Sama Kecerdasan Buatan

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu untuk membahas sektor AI dan ekspor chip pada Selasa, 12 Mei 2026.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada Selasa (12/5/2026) untuk membahas fokus kerja sama pada sektor kecerdasan buatan (AI). Pertemuan diplomatik ini diprediksi tidak akan menyinggung isu perang dagang yang selama ini membayangi hubungan kedua negara adidaya tersebut.

Dilansir dari Detik Finance melalui Reuters, agenda utama kedua kepala negara mencakup potensi pelonggaran pembatasan ekspor chip asal China yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Fokus pada teknologi ini muncul di tengah menguatnya nilai tukar yuan yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Investor saat ini lebih menaruh perhatian pada prospek pertumbuhan sektor teknologi dibandingkan isu sensitif lainnya. Beberapa isu seperti konflik AS-Israel dengan Iran, status Taiwan, komoditas logam tanah jarang, hingga kepemilikan senjata nuklir diperkirakan tidak menjadi prioritas dalam diskusi tersebut.

Data pasar menunjukkan indeks Shanghai Composite (SSEC) menyentuh level tertinggi dalam 11 tahun menjelang pertemuan ini. Pertumbuhan ekspor Tiongkok tercatat meningkat pesat seiring dengan lonjakan pesanan yang didorong oleh perkembangan infrastruktur dan teknologi AI secara global.

Meskipun surplus perdagangan China terus melebar, para pelaku industri dilaporkan tidak terlalu khawatir terhadap ancaman tarif baru dari Amerika Serikat. Sebagian besar investor telah mengalihkan portofolio mereka ke arah perusahaan yang mendukung kemandirian teknologi AI buatan China.

"Situasinya telah berbalik. China hanya ingin membahas sedikit hal dengan Trump," kata wakil manajer umum Tongheng Investment, Yang Tingwu, dikutip dari Reuters pada Selasa (12/5/2026).

Yang menambahkan bahwa konflik antara AS dan Iran yang belum tuntas justru melemahkan posisi tawar Trump dalam persaingan sektor AI. Hal ini terlihat dari meningkatnya investasi pada saham China Mobile dan China Telecom yang memiliki eksposur kuat terhadap bisnis pusat data.

Relaksasi hubungan kedua negara juga ditandai dengan keputusan pengadilan Amerika Serikat yang membatalkan sebagian besar hambatan tarif yang ditetapkan pada masa jabatan Trump sebelumnya. Sementara itu, barang-barang China dilaporkan tetap masuk ke pasar AS melalui jalur distribusi di Asia Tenggara.

Pemerintah Tiongkok terus memperkuat rantai pasokan domestik sebagai langkah antisipasi dampak konflik di Timur Tengah. Para investor kini melihat ketegangan geopolitik sebagai pendorong bagi Tiongkok untuk mempercepat pengembangan mandiri di sektor infrastruktur teknologi masa depan.

Recommended