Kisah mengenai deportasi seorang pesepak bola asal Venezuela, Jerce Reyes Barrios, kembali menyeret nama Donald Trump dalam sorotan dunia sepak bola. Deportasi ini dipicu oleh salah tafsir tato di tubuh Barrios.
Beberapa tahun belakangan, Trump memang sering dikaitkan dengan sepak bola, terutama karena Amerika Serikat menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko.
Namun, keterlibatan Trump dalam dunia sepak bola kerap diwarnai kontroversi. Salah satu isu yang mencuat adalah daftar larangan perjalanan terhadap 39 negara yang diumumkannya, menimbulkan kekhawatiran terkait visa, keamanan, dan logistik menjelang Piala Dunia.
Kendati menuai kritik, Gianni Infantino, Presiden FIFA, sempat memberikan penghargaan FIFA Peace Prize perdana kepada Donald Trump pada Desember 2025.
Di tengah berbagai kontroversi tersebut, muncul kisah mengenai Jerce Reyes Barrios, seorang pesepak bola asal Venezuela yang juga berprofesi sebagai pelatih sepak bola anak-anak.
Barrios ditahan setelah mengikuti aksi protes terhadap pemerintahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada awal 2024. Setelah melarikan diri, ia menuju perbatasan Meksiko dan memasuki Amerika Serikat pada September 2024 melalui aplikasi CBP One.
Namun, sesampainya di AS, menurut pengacaranya Linette Tobin, Barrios dideportasi ke El Salvador. Keputusan ini diduga disebabkan oleh kesalahan interpretasi terhadap tato di tubuhnya. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menilainya sebagai indikasi hubungan dengan geng kriminal dan menunjuk foto Barrios yang dianggap menunjukkan isyarat tangan geng.
Tobin membantah tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa tato Barrios sebenarnya bergambar mahkota di atas bola sepak dengan tulisan "Dios", atau Tuhan, terinspirasi dari lambang klub favoritnya, Real Madrid. Seniman tato pun membenarkan desain tersebut.
Barrios tidak memiliki catatan kriminal, namun pihak berwenang menuduhnya terkait dengan organisasi kriminal Venezuela, Tren de Aragua. Menurut pengacaranya, ia sebenarnya sedang menunggu sidang imigrasi saat dideportasi.
Penahanan di CECOT
Setelah dideportasi, Barrios dikirim ke penjara keamanan maksimum CECOT (Centre for the Confinement of Terrorism) di El Salvador, yang dikenal sebagai salah satu penjara paling keras di dunia. Penjara ini dibangun pada 2023 oleh pemerintah El Salvador di bawah kepemimpinan Presiden Nayib Bukele sebagai bagian dari operasi pemberantasan geng kriminal.
CECOT sering dijuluki “Alcatraz Amerika Tengah” karena sistem keamanan dan kondisi penjaranya yang sangat ketat. Sel-sel dirancang untuk menampung sekitar 80 tahanan atau lebih, dengan minimnya fasilitas. David Culver, jurnalis CNN, menggambarkan kondisi di dalam penjara:
"Satu-satunya perabotan adalah ranjang logam bertingkat tanpa seprai, bantal, atau kasur … ada toilet terbuka, wastafel semen dan ember plastik untuk mencuci, serta kendi besar untuk air minum.”
Para tahanan hanya diperbolehkan keluar sel selama 30 menit per hari, dengan lampu yang terus menyala.
Kebebasan Barrios
Diperkirakan 10.000 hingga 20.000 tahanan berada di CECOT pada tahun lalu, termasuk ratusan orang yang dideportasi dari Amerika Serikat.
Keluarga Barrios sempat kehilangan kontak dengannya selama berbulan-bulan sebelum akhirnya diketahui ia telah dibebaskan tahun ini.
Kasus ini menambah panjang daftar kontroversi kebijakan deportasi yang dilakukan pemerintah AS terhadap orang-orang yang diduga memiliki hubungan dengan geng kriminal.
Bagi banyak pengamat, kisah Jerce Reyes Barrios menjadi contoh bagaimana kesalahpahaman, bahkan hanya karena sebuah tato, dapat berujung pada konsekuensi serius dalam sistem keamanan dan imigrasi internasional.