PSIM Yogyakarta Menyerah dari Arema FC pada Laga Pamungkas BRI Super League

PSIM Yogyakarta takluk 1-3 dari Arema FC di Stadion Kanjuruhan pada laga terakhir BRI Super League 2025/2026, Jumat (22/5/2026).

PSIM Yogyakarta harus menyudahi perjalanan mereka dalam kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan hasil yang kurang memuaskan.

Seperti dikutip dari Bola, Laskar Mataram menelan kekalahan dengan skor 1-3 saat menghadapi Arema FC pada pertandingan pekan ke-34 di Stadion Kanjuruhan, Jumat (22/5/2026) sore WIB.

Arema FC membuka keunggulan lebih dulu melalui aksi Joe Vinicius saat laga baru berjalan tiga menit, sebelum Dalberto Luan menggandakan keunggulan pada menit ke-49.

Deri Corfe sempat memperkecil ketertinggalan PSIM Yogyakarta lewat golnya pada menit ke-53, namun Valdeci Moreira mengunci kemenangan Arema FC lewat gol di menit ke-90.

Hasil minus dalam pertandingan ini membuat PSIM Yogyakarta menyudahi musim di peringkat ke-11 dengan raihan 45 poin.

Sementara itu, Arema FC mengakhiri kompetisi di posisi ke-9 klasemen akhir dengan mengoleksi 48 angka.

Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, mengungkapkan bahwa pasukannya tampil kurang siap sehingga mengalami kesulitan pada paruh pertama laga.

Fokus para pemain yang dinilai kurang optimal sejak sepak mula menjadi penyebab utama Laskar Mataram langsung berada di bawah tekanan tim tuan rumah.

"Sebagian besar pemain saya di babak pertama tidak benar-benar fokus ke dalam pertandingan. Akibatnya setelah empat menit berjalan kami kebobolan gol karena kesalahan pribadi," ujar Van Gastel.

"Itu awal yang sulit terutama bermain tandang melawan Arema yang merupakan lawan kuat secara fisik. Setelah jeda babak pertama kami mengubah formasi dan kami memulai dengan baik. Namun, lagi-lagi kami kebobolan gol yang terhitung cukup awal," sambungnya.

Perubahan Strategi Paruh Kedua

Memasuki babak kedua, tim tamu mencoba merespons ketertinggalan dengan menerapkan skema taktik yang baru demi menghidupkan permainan.

Jean-Paul van Gastel mengapresiasi peningkatan performa Franco Ramos dan kolega, meski sadar strategi menyerang tersebut mendatangkan risiko besar di lini belakang.

"Namun, kami tetap terus bermain jauh lebih baik daripada babak pertama dan berhasil membawa diri kami kembali ke dalam permainan," kata juru taktik berusia 54 tahun tersebut.

"Skor menjadi 2-1 dan kemudian Anda harus mengambil banyak risiko, akhirnya kami kebobolan gol 3-1 melalui gol indah. Dan begitulah. Jadi, selamat untuk Arema," lanjut Van Gastel.

Awal Laga yang Berat bagi Laskar Mataram

Evaluasi senada juga diutarakan oleh penyerang asing Laskar Mataram, Deri Corfe, mengenai kegagalan timnya mengendalikan tempo permainan di menit-menit awal.

"Pertandingan dimulai dengan awal yang sulit. Secara keseluruhan kami tidak memulai dengan cara yang terbaik dan Anda tidak memberi diri Anda peluang terbaik untuk memenangkan pertandingan jika memulai seperti ini," ucapnya.

"Tapi saya pikir di babak kedua kami bermain seperti cara kami biasanya bermain, seperti memberikan performa yang lebih baik."

"Kemudian, ya, sayangnya begitu Anda kebobolan tiga gol, sangat sulit untuk memenangkan pertandingan. Tapi saya pikir kami sudah mencoba sampai akhir, hanya itu yang bisa diupayakan," tutup Corfe.

Recommended