Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap atlet panjat tebing dan kickboxing menuai respons dari berbagai federasi olahraga, termasuk PSSI. Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menyampaikan kecaman keras atas tindakan tersebut.
Menurut Yunus, tindakan kekerasan seksual menciderai nilai-nilai luhur olahraga seperti sportivitas, saling menghormati, dan integritas. Ia menegaskan bahwa kekerasan, terutama kekerasan seksual, tidak boleh ada dalam dunia olahraga.
Yunus menambahkan bahwa kasus ini menyedihkan bagi korban, keluarga, dan masyarakat, mengingat kontribusi para atlet bagi daerah dan negara.
PSSI berharap aparat penegak hukum menangani kasus ini secara serius, profesional, dan transparan agar korban mendapatkan keadilan.
"PSSI sangat menyayangkan kekerasan seksual yang menimpa atlet kita. Olahraga dibangun di atas nilai sportivitas, rasa saling menghormati, dan integritas. Kekerasan seksual jelas merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai tersebut dan tidak boleh mendapat tempat dalam ekosistem olahraga," tegas Yunus Nusi.
Apresiasi juga diberikan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, atas komitmennya dalam mengawal kasus ini dan memberikan perlindungan kepada korban.
Anggota Komite Eksekutif PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, juga menyampaikan kecaman serupa. Ia menekankan bahwa dunia olahraga harus menjadi ruang aman bagi atlet untuk berkembang dan berprestasi.
"Atlet adalah kebanggaan bangsa yang harus kita jaga dan lindungi. Mereka berhak berlatih, bertanding, dan berkembang dalam lingkungan yang aman, bukan malah menjadi ruang yang menimbulkan trauma," tegas Vivin.
Vivin menegaskan tidak ada toleransi bagi pelaku kekerasan seksual dan menuntut hukuman setimpal sesuai undang-undang.
"Hukuman ini harus menjadi pesan tegas bahwa dunia olahraga Indonesia adalah wilayah terlarang bagi pelaku kekerasan," lanjutnya.
Untuk mencegah kasus serupa di sepak bola, Vivin mendorong langkah konkret seperti advokasi bagi korban, penguatan regulasi dan kode etik, serta peningkatan edukasi mengenai batasan perilaku profesional.
Edukasi berkelanjutan dinilai penting agar seluruh elemen olahraga memahami pentingnya menghormati integritas pribadi dan menjaga lingkungan yang aman bagi atlet.
"Kita ingin para atlet fokus pada prestasi tanpa dibayangi rasa takut atau tekanan. Karena itu semua pihak harus bekerja bersama memastikan sistem perlindungan yang kuat benar-benar berjalan," kata Vivin.
Vivin menegaskan perlindungan atlet adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen olahraga Indonesia.