PSSI Tahan Dana Subsidi PSBS Biak demi Lunasi Tunggakan Gaji Pemain

PSSI dan operator liga menahan dana deposit PSBS Biak untuk menyelesaikan penunggakan gaji pemain dan ofisial selama empat bulan pada Mei 2026.

Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, memastikan pihak federasi menahan dana subsidi milik PSBS Biak untuk melunasi tunggakan gaji pemain dan ofisial yang belum terbayar selama empat bulan pada Minggu (10/5/2026).

Langkah tegas ini diambil menyusul krisis finansial yang dialami klub asal Papua tersebut menjelang berakhirnya kompetisi musim 2025/2026. Penahanan dana dilakukan melalui koordinasi ketat dengan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi.

Dilansir dari Bola, permasalahan ini telah menyebabkan eksodus besar-besaran di skuad PSBS Biak. Sebanyak enam pemain, yang terdiri dari dua pemain lokal dan empat legiun asing, memutuskan untuk memutus kontrak dan meninggalkan klub lebih awal.

Pemain lokal yang hengkang adalah Arif Budiyono dan George Brown. Sementara itu, pemain asing yang turut pergi meliputi Ruyery Blanco, Eduardo Barbosa, Kevin Alexander, serta Sandro Embalo akibat ketidakpastian hak finansial mereka.

"Kami sudah meminta kepada PT LIB agar ini menjadi catatan penting, dan operator sudah menjamin kepada kami bahwa ada deposit dari PSBS Biak yang masih dipegang oleh PT LIB," kata Yunus Nusi, Sekretaris Jenderal PSSI.

Penegasan tersebut diikuti dengan permintaan federasi agar dana tersebut tidak dicairkan kepada manajemen klub sebelum seluruh kewajiban terhadap personel terpenuhi. PSSI memproyeksikan jumlah deposit tersebut cukup untuk menutupi beban gaji yang tertunggak.

Direktur Utama operator liga, Ferry Paulus, telah menyetujui mekanisme kompensasi tersebut untuk melindungi hak-hak pelatih dan pemain. Saat ini, tim legal dari pihak operator tengah mengkaji mekanisme pencairan dana agar sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sebelum keputusan ini keluar, para pemain PSBS Biak sempat mengancam akan melakukan aksi mogok bertanding di sisa laga musim ini. Federasi berharap kejadian serupa tidak terulang kembali karena sangat merugikan profesionalisme industri sepak bola nasional.

Recommended