Red Hat mengumumkan peluncuran Red Hat AI Enterprise, sebuah platform terintegrasi yang dirancang untuk menjalankan dan mengelola model, agen, serta aplikasi kecerdasan buatan (AI) di berbagai lingkungan hybrid cloud.
Solusi ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara infrastruktur AI dan agen siap produksi. Caranya, dengan menyatukan seluruh siklus hidup AI di atas fondasi Red Hat Enterprise Linux dan Red Hat OpenShift.
Peluncuran ini melengkapi portofolio Red Hat AI yang ada, termasuk Red Hat AI Inference Server, Red Hat OpenShift AI, dan Red Hat Enterprise Linux AI. Rangkaian solusi ini menawarkan stack AI komprehensif, mulai dari infrastruktur fisik hingga agen AI, mengintegrasikan Linux dan Kubernetes dengan kemampuan inference dan agentic.
Tujuannya adalah membantu organisasi beralih dari eksperimen AI yang terfragmentasi menuju operasional AI yang terkelola dan otonom.
Lanskap AI enterprise berkembang pesat, bergeser dari antarmuka chat sederhana menuju alur kerja agentic yang high-density dan otonom, yang membutuhkan integrasi mendalam di seluruh lapisan teknologi. Banyak organisasi masih menghadapi tantangan karena penggunaan tools yang terpisah-pisah dan inkonsistensi infrastruktur.
Red Hat AI Enterprise mengatasi tantangan tersebut dengan menggabungkan siklus hidup model dan aplikasi AI. Tim IT dapat mengelola AI sebagai sistem enterprise yang terstandarisasi, bukan sebagai proyek eksperimental. Hasilnya, pengiriman AI menjadi lebih andal dan repeatable.
Sebagai fondasi untuk AI yang siap produksi, Red Hat AI Enterprise menghadirkan kemampuan inti seperti AI inference berperforma tinggi, tuning dan kustomisasi model, serta penerapan dan pengelolaan agen. Platform ini mendukung berbagai model, jenis hardware, dan lingkungan operasional.
Didukung oleh Red Hat OpenShift, platform aplikasi hybrid cloud berbasis Kubernetes, Red Hat AI Enterprise memastikan skalabilitas, operasional yang konsisten, dan keamanan yang lebih kuat, dengan tetap memanfaatkan tools dan framework yang sudah dikenal.
Red Hat juga bekerja sama dengan NVIDIA dalam mengembangkan Red Hat AI Factory with NVIDIA, yang menggabungkan Red Hat AI Enterprise dan NVIDIA AI Enterprise untuk mempercepat dan meningkatkan skala produksi AI di lingkungan enterprise.
Sejalan dengan peluncuran platform, Red Hat memperkenalkan Red Hat AI 3.3, yang membawa pembaruan dan peningkatan signifikan di seluruh portofolio AI perusahaan. Fokusnya adalah memperluas pilihan model dan meningkatkan optimasi full-stack untuk silicon generasi berikutnya.
Fitur dan peningkatan baru mencakup ekosistem model yang lebih luas, seperti versi terkompresi dari Mistral-Large-3, Nemotron-Nano, dan Apertus-8B-Instruct, yang tersedia melalui OpenShift AI Catalog.
Selain itu, versi baru ini mendukung penerapan model mutakhir seperti Ministral 3 dan DeepSeek-V3.2 dengan teknik sparse attention, serta peningkatan multimodal, termasuk peningkatan kecepatan Whisper hingga tiga kali lipat.
Peningkatan lainnya adalah pratinjau teknologi Models-as-a-Service (MaaS), yang memungkinkan tim IT menyediakan akses layanan mandiri ke model yang di-host secara privat melalui API gateway.
Dari sisi hardware, dukungan ditingkatkan, termasuk pratinjau teknologi yang mampu menjalankan AI generatif di CPU—dimulai dengan CPU Intel untuk inferensi small language model (SLM) dengan biaya yang lebih efisien—serta dukungan sertifikasi hardware untuk NVIDIA’s Blackwell Ultra dan akselerator AMD MI325X.
Pembaruan ini mencakup siklus hidup data-to-model yang terintegrasi dan aman melalui Red Hat AI Python Index baru, serta kemampuan observability dan keamanan AI yang komprehensif, terintegrasi dengan pratinjau teknologi NeMo Guardrails. Red Hat AI 3.3 juga menyediakan akses on-demand ke sumber daya GPU melalui pengelolaan cerdas dan pooling akses hardware.
Joe Fernandes, vice president dan general manager Unit Bisnis AI Red Hat, menekankan bahwa "AI harus dioperasionalkan sebagai komponen inti pada software stack di enterprise untuk memberikan nilai bisnis yang nyata."