Nilai tukar rupiah kembali menguat setelah sempat berada di bawah tekanan dan nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Pada awal pekan ini, sentimen pasar mulai berubah arah. Penguatan rupiah terjadi di tengah melemahnya mata uang dolar AS secara global serta respons pasar terhadap sejumlah faktor domestik yang dinilai cukup solid.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Senin (26/1/2026) ditutup menguat 0,23 persen di level Rp16.782 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS yang turun 0,40 persen ke posisi 97,21. Kondisi tersebut memberi napas bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Pergerakan dollar hari ini pun menjadi sorotan pelaku pasar karena arahnya mulai kehilangan tenaga.
Kombinasi Sentimen Global dan Domestik
Pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai penguatan rupiah bukan terjadi secara kebetulan. Menurutnya, ada kombinasi sentimen global dan domestik yang bekerja secara bersamaan.
Dari sisi global, data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis belakangan berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi tersebut menekan permintaan terhadap dolar AS. Ketika minat terhadap dolar melemah, mata uang negara berkembang cenderung mendapat ruang untuk menguat.
“Dengan data ekonomi AS yang kurang baik, permintaan dolar ikut menurun. Ini menjadi sentimen positif bagi rupiah,” kata Nailul.
Situasi global ini menjadi katalis awal yang cukup penting. Namun, faktor dari dalam negeri justru dinilai memberi kontribusi lebih besar dalam menjaga stabilitas rupiah.
Peran Bank Indonesia Jaga Stabilitas
Dari sisi domestik, langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI) menjadi faktor kunci. Otoritas moneter menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di level yang kuat. Kondisi ini memberi keyakinan kepada pasar bahwa BI memiliki amunisi yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Cadangan devisa tersebut terlihat digunakan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing. Langkah ini menunjukkan keseriusan BI dalam meredam gejolak rupiah.
“Cadangan devisa memang terlihat terkuras untuk intervensi. Tapi ini justru memberi sinyal kuat bahwa BI serius menjaga stabilitas rupiah,” ujar Nailul.
Kepercayaan pasar terhadap bank sentral menjadi faktor penting. Ketika pelaku pasar yakin otoritas moneter siap bertindak, tekanan spekulatif terhadap rupiah cenderung mereda.
Sentimen Baru dari Internal BI
Selain faktor fundamental, momentum penguatan rupiah juga bertepatan dengan terpilihnya Deputi Gubernur BI yang baru, Thomas Djiwandono. Pergantian ini dinilai turut membentuk sentimen positif di pasar keuangan.
Nailul menilai isu tersebut bisa saja dimanfaatkan pasar untuk membangun optimisme jangka pendek. Meski begitu, sentimen ini tetap memberi efek psikologis yang cukup signifikan.
“Momentum ini bisa saja dimanfaatkan pasar untuk menggoreng sentimen. Tapi tetap saja memberi dorongan positif dalam jangka pendek,” ujarnya.
Dalam kondisi pasar yang sensitif, faktor non-ekonomi seperti kepastian kepemimpinan di lembaga strategis kerap menjadi pemicu perubahan arah pergerakan nilai tukar.
Harapan Keberlanjutan Sentimen Positif
Dari kalangan pelaku pasar, Direktur Utama OCBC Sekuritas, Betty Goenawan, berharap sinyal positif dari pemerintah dan otoritas moneter tidak berhenti dalam satu momentum saja.
Menurutnya, informasi terkait cadangan devisa serta keputusan strategis di BI perlu diikuti dengan kebijakan yang konsisten agar penguatan rupiah bisa berkelanjutan.
“Untuk hari ini, pasar berharap informasi positif yang dikeluarkan pemerintah bisa terus berlanjut dan menopang penguatan rupiah,” ujarnya.
Ekspektasi ini mencerminkan kebutuhan pasar terhadap kepastian. Tanpa arah kebijakan yang jelas, penguatan rupiah berisiko hanya bersifat sementara.
Ekonomi Riil Masih Menopang
Dari sisi fundamental domestik, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Aktivitas sektor riil belum menunjukkan tanda pelemahan yang signifikan. Salah satu indikatornya tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang masih berada di zona ekspansif.
PMI yang bertahan di atas level 50 menunjukkan aktivitas produksi masih berjalan dengan baik. Hal ini menjadi bantalan penting bagi stabilitas nilai tukar.
“Secara ekonomi, kondisi sebenarnya masih bagus. PMI manufaktur masih positif. Dari sisi produksi, kita masih kuat,” kata Betty.
Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah pada periode sebelumnya lebih banyak dipicu faktor eksternal dan sentimen global, bukan karena fundamental ekonomi domestik yang rapuh.
Rupiah dan Kaitan dengan Pasar Saham
Pergerakan rupiah juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar saham. Optimisme terhadap ekonomi domestik turut tercermin pada proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan.
Beberapa analis menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki ruang penguatan hingga menembus level 10.000 pada 2026. Sektor perbankan diperkirakan menjadi motor utama, didukung fundamental yang relatif kuat.
Selain perbankan, sektor pertambangan, khususnya mineral dan emas, juga dinilai masih solid. Permintaan global terhadap komoditas tertentu tetap terjaga, memberi kontribusi positif bagi kinerja emiten di sektor ini.
Sektor barang konsumsi pun tidak luput dari perhatian. Dengan daya beli masyarakat yang relatif terjaga, peluang pertumbuhan di sektor ini masih terbuka.
Sentimen pasar juga diarahkan pada perbaikan persepsi global terhadap pasar Indonesia, terutama pasca keputusan MSCI yang diharapkan lebih mendukung aliran dana asing.
Pergerakan Pagi Hari: Rupiah Koreksi Tipis
Meski menguat pada penutupan sebelumnya, rupiah kembali bergerak fluktuatif pada perdagangan pagi. Melansir Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat melemah tipis 0,06 persen atau sekitar 10 poin ke level Rp16.792 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menguat tipis 0,02 persen ke posisi 97,05. Kondisi ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase menimbang arah pergerakan selanjutnya.
Fluktuasi ini dinilai wajar, mengingat pelaku pasar masih mencermati perkembangan global serta menunggu data ekonomi lanjutan dari Amerika Serikat dan kawasan lainnya.
Waspada Volatilitas Jangka Pendek
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Meski sentimen domestik cukup mendukung, faktor global tetap menjadi penentu utama arah dollar hari ini 27 Januari 2026 dan seterusnya.
Pasar akan mencermati kebijakan bank sentral AS, arah suku bunga global, serta data inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia. Selama tekanan terhadap dolar AS berlanjut, rupiah berpeluang menjaga stabilitasnya.
Namun, jika terjadi perubahan sentimen global secara mendadak, tekanan terhadap mata uang negara berkembang bisa kembali muncul. Dalam situasi seperti ini, peran Bank Indonesia menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan pasar.
Dengan kombinasi fundamental domestik yang relatif kuat dan dukungan kebijakan yang konsisten, rupiah diharapkan mampu bertahan dari gejolak dan bergerak lebih stabil dalam jangka menengah.