Nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.403,4 per USD pada perdagangan Senin pagi, 11 Mei 2026, pukul 09.20 WIB. Penurunan ini mencatatkan pelemahan sebesar 63,4 poin atau setara 0,37 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kenaikan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,14 persen ke posisi 97,920 memperkuat dominasi mata uang tersebut terhadap mayoritas mata uang global. Dilansir dari Medcom, penguatan dolar dipicu oleh laporan tenaga kerja AS yang menunjukkan penambahan 115 ribu lapangan kerja non-pertanian pada April lalu.
Data ketenagakerjaan yang melampaui ekspektasi pasar tersebut memperkuat proyeksi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan tingkat suku bunga pada level tinggi untuk jangka waktu tertentu. Selain terhadap dolar, rupiah juga terpantau melemah 0,28 persen terhadap yuan Tiongkok ke posisi Rp2.560,67.
Pergerakan rupiah di kawasan regional terpantau bervariasi pada awal pekan ini. Ringgit Malaysia tercatat menguat 0,09 persen terhadap rupiah di level Rp4.432,65, sementara mata uang baht Thailand justru melemah 0,35 persen ke posisi Rp537,316.
Di pasar mata uang global, rupiah masih mampu menunjukkan penguatan terhadap yen Jepang yang turun 0,06 persen ke Rp110,77 dan euro yang melemah 0,21 persen ke Rp20.424,0. Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh volatilitas kebijakan moneter dan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal pembicaraan damai yang diajukan melalui mediator Pakistan. Trump menyebut tuntutan Iran terkait pencabutan sanksi dan penghentian kehadiran militer AS di Selat Hormuz sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima.
Situasi konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut berdampak langsung pada sektor energi global. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga 3,3 persen menjadi USD104,65 per barel pada pembukaan perdagangan Senin seiring hilangnya harapan akan perdamaian dalam waktu dekat.