Saham BMRI Disebut ‘Barang Mewah’ Harga Diskon, Potensi Cuan Tembus 22 Persen

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini memang penuh tantangan, namun perhatian pelaku pasar justru tertuju pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Saham perbankan berkapitalisasi pasar besar ini tengah menjadi primadona lantaran valuasinya yang dianggap masih “murah” di tengah kinerja fundamental yang justru mencetak rekor sejarah. Bagi investor yang mencari kestabilan sekaligus potensi pertumbuhan, BMRI menawarkan kombinasi langka antara harga diskon dan profitabilitas tinggi.

Berdasarkan data pasar terbaru, saham Bank Mandiri menunjukkan daya tarik yang sulit diabaikan oleh investor institusi maupun ritel. Rasio harga terhadap laba atau Price to Earnings (PE) Ratio BMRI saat ini berada di angka 8,4 kali (trailing twelve months). Angka ini tergolong sangat kompetitif untuk ukuran bank sistemik di Indonesia yang memiliki Return on Equity (ROE) sangat sehat, menandakan bahwa harga pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan laba perusahaan yang sebenarnya.

Momentum akumulasi pun mulai terlihat jelas dari pergerakan modal masuk. Di saat pasar bergejolak, investor asing justru terpantau terus menyuntikkan dana ke saham BMRI. Fenomena ini memberikan sinyal kepercayaan kuat bahwa prospek bank pelat merah ini masih sangat cerah sepanjang tahun 2026. Dengan dukungan laba bersih yang melampaui ekspektasi pasar, BMRI diprediksi menjadi penggerak utama sektor finansial dalam waktu dekat.

Analisis Kinerja Keuangan Bank Mandiri: Rekor Laba di Tengah Dinamika Pasar

Keberhasilan Bank Mandiri mencatatkan performa gemilang sepanjang tahun 2025 menjadi fondasi utama optimisme pasar saat ini. Emiten berkode saham BMRI ini membuktikan ketangguhannya dengan hasil kuartal IV-2025 yang luar biasa. Tidak tanggung-tanggung, laba bersih kuartalan tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan, mencapai Rp 18,6 triliun hanya dalam periode tiga bulan terakhir tahun lalu.

Dikutip dari investor.id, total laba bersih Bank Mandiri sepanjang tahun 2025 menyentuh angka Rp 56,3 triliun. Pencapaian ini mengalami pertumbuhan 1% secara tahunan (year on year/yoy), sebuah angka yang terlihat konservatif namun sebenarnya sangat signifikan karena melampaui estimasi analis maupun konsensus pasar yang sebelumnya memprediksi pertumbuhan lebih rendah.

Efisiensi Operasional dan Kualitas Kredit yang Terjaga

Solidnya angka laba tersebut bukan sekadar keberuntungan. Manajemen Bank Mandiri berhasil menekan biaya operasional melalui optimisasi Cost to Income Ratio (CIR). Selain itu, biaya pencadangan atau Cost of Credit (CoC) juga tercatat lebih rendah dari perkiraan awal, yang menunjukkan bahwa manajemen risiko bank ini bekerja dengan sangat efektif.

“Pencapaian itu lebih tinggi dari estimasi kami maupun konsensus pasar,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis dalam riset resminya. Kondisi ini memperkuat posisi BMRI sebagai emiten dengan manajemen aset yang disiplin.

Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK)

Sisi intermediasi perbankan juga menunjukkan angka yang impresif:

  • Pertumbuhan Kredit: Tumbuh kuat sebesar 13% yoy pada 2025, didominasi oleh segmen korporasi dan komersial.

  • Dana Pihak Ketiga (DPK): Melonjak signifikan sebesar 24% yoy, didorong oleh pertumbuhan deposito berjangka yang solid.

  • Likuiditas: Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level sehat 89%, memberikan ruang yang cukup bagi bank untuk melakukan ekspansi kredit di masa mendatang.

  • Kualitas Aset: Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tetap stabil di angka 1,1%, menunjukkan bahwa ekspansi kredit dilakukan dengan prinsip kehati-hatian yang ketat.

Proyeksi Saham BMRI di 2026: Target Harga dan Potensi Dividen

Memasuki tahun 2026, Bank Mandiri menetapkan target yang ambisius namun realistis. Perseroan membidik pertumbuhan kredit di kisaran 7-9% dengan Net Interest Margin (NIM) terjaga pada level 4,6-4,8%. Langkah ini diharapkan tetap memberikan profitabilitas yang optimal bagi para pemegang saham.

Kabar baik lainnya bagi pemburu dividen adalah komitmen perseroan dalam pembagian laba. BMRI menargetkan dividend payout ratio mencapai 65-70%. Dengan laba bersih yang terus tumbuh, besaran dividen per saham yang akan diterima investor diprediksi akan tetap atraktif, menjadikannya salah satu dividend play favorit di bursa.

Rekomendasi Analis dan Target Harga Baru

Melihat fundamental yang semakin kokoh, BRI Danareksa Sekuritas memutuskan untuk menaikkan target harga saham BMRI. Keyakinan ini didasarkan pada revisi estimasi laba bersih 2026 yang dinaikkan sebesar 10%.

  1. Rekomendasi: Beli (Maintain Buy).

  2. Target Harga Baru: Rp 6.200 per lembar saham (naik dari sebelumnya Rp 5.500).

  3. Potensi Kenaikan (Upside): Sekitar 22,1% dari harga penutupan terakhir di level Rp 5.075.

  4. Valuasi Fair Value: Mencerminkan Price to Book Value (PBV) sebesar 1,8 kali.

Pergerakan Pasar dan Akumulasi Asing

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan Jumat (13/2/2026), saham BMRI parkir di level Rp 5.075. Meskipun secara year to date (ytd) masih terkoreksi tipis 0,49%, namun dalam satu bulan terakhir saham ini sudah merangkak naik 6,39%.

Menariknya, terjadi aliran modal asing yang masif. Selama periode 9-13 Februari 2026, investor asing mencatatkan nilai beli bersih (net buy) mencapai Rp 646,7 miliar di pasar reguler. Nilai akumulasi ini merupakan yang terbesar di antara emiten lainnya, menandakan bahwa “tangan-tangan besar” sedang mengambil posisi di harga saat ini sebelum potensi rally terjadi lebih lanjut.

Dengan ROE yang diproyeksikan meningkat menjadi 18,8% pada tahun ini, Bank Mandiri bukan lagi sekadar bank besar, melainkan mesin pencetak laba yang efisien bagi para investornya. Bagi mereka yang memiliki cakrawala investasi jangka menengah hingga panjang, momentum harga saat ini merupakan peluang yang sayang untuk dilewatkan.

Recommended