Bek PSBS Biak, Sandro Embalo, menceritakan pengalamannya berpuasa di tengah jadwal latihan yang padat bersama timnya, yang dijuluki Badai Pasifik.
Ramadan bukan hal baru bagi Sandro, termasuk saat harus menjaga performa di lapangan. Menurutnya, latihan saat berpuasa memang butuh penyesuaian.
"Saya sudah terbiasa menjalaninya. Selama Ramadan tentu saja kami tidak bisa berlatih dengan sangat keras dan intens karena kami sedang berpuasa dan kadar protein serta energi kami tidak setinggi biasanya," ujar Sandro kepada Bola.com, Sabtu (21/2/2026).
"Saya merasa baik-baik saja. Ini hanya masalah mengelola beban latihan dan intensitasnya saja," sambung mantan pemain Genoa tersebut.
Sebelum membela PSBS, Sandro Embalo sempat memperkuat Persita. Ia merasakan perbedaan suasana Ramadan di dua kota berbeda yakni Tangerang dan Yogyakarta. Musim ini, PSBS Biak bermarkas sementara di Kota Gudeg.
Sandro mengenang pengalamannya di Persita Tangerang, di mana mereka bisa berlatih lebih malam karena stadion memiliki lampu. Hal ini memudahkan karena waktu latihan selesai berdekatan dengan waktu berbuka puasa.
"Musim lalu kami menjalani Ramadan di Persita Tangerang. Kami beruntung di Tangerang karena bisa berlatih sedikit lebih malam karena stadionnya memiliki lampu," kenang Sandro.
"Latihan bisa dimulai agak lambat dan saat selesai latihan sudah waktunya berbuka puasa, jadi jauh lebih mudah. Di sini kami tidak memiliki lampu stadion sehingga harus berlatih lebih awal dan menunggu sedikit lebih lama untuk waktu berbuka," ungkapnya.
Sandro mengaku tidak memiliki makanan favorit selama Ramadan. Baginya, yang terpenting adalah mengisi energi yang cukup saat berbuka.
"Saya tidak punya makanan favorit tertentu. Saya hanya ingin makan saat waktunya berbuka tiba. Jadi ya saya tidak punya makanan favorit khusus," ucap Sandro.
Untuk sahur, pemain asal Portugal itu memilih menu sederhana dan ringan seperti kurma, telur rebus, sereal, dan susu.
"Saya biasanya membeli kurma dan telur rebus. Saya tidak makan terlalu banyak agar bisa tidur lagi setelahnya. Jadi saya mencoba makan makanan ringan seperti kurma, telur, sereal, dan susu," jelasnya.
Tahun ini adalah Ramadan kedua Sandro di Indonesia. Pemain berusia 29 tahun itu berharap dapat terus melanjutkan kariernya di kompetisi sepak bola tertinggi nasional.
"Ini adalah tahun kedua saya di Indonesia dan Ramadan kedua saya di sini, Alhamdulillah. Saya berharap bisa tinggal di sini beberapa tahun lagi untuk menjalani lebih banyak Ramadan," tutur bek kelahiran Lisboa, Portugal itu.
Selain itu, Sandro juga menyampaikan harapan besarnya di bulan suci ini.
"Saya hanya berharap semua orang memanfaatkan bulan ini untuk benar-benar merenungkan apa yang terjadi di dunia tentang rasisme, perang, dan segalanya agar kita semua bisa bersatu," katanya.
"Tujuan utama saya adalah agar kita bersatu menjadi pribadi yang baik dan terus melakukan perbuatan baik," pungkas Sandro.