Sebanyak 640 calon peserta didik mengikuti tahapan wawancara daring dalam rangkaian seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Unggul Garuda Baru Tahun Akademik 2026-2027 pada Sabtu (25/4/2026) dan Minggu (26/4/2026). Seleksi ini bertujuan menyaring siswa unggul di bidang sains dan teknologi dari seluruh Indonesia.
Dilansir dari Medcom, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menjelaskan bahwa proses wawancara ini dilaksanakan secara simultan dan dibagi ke dalam dua sesi utama. Sebanyak 320 peserta dijadwalkan pada hari pertama, sementara sisanya menyelesaikan tahap ini pada hari berikutnya.
Panitia memberikan kesempatan bagi peserta yang mengalami kendala teknis atau berhalangan hadir untuk mengikuti jadwal susulan pada Senin, 27 April 2026. Setiap calon siswa menjalani wawancara individual selama 15 menit dengan penilaian dari dua orang pewawancara ahli guna menjaga objektivitas hasil.
Sebanyak 40 pewawancara yang terlibat terdiri dari kalangan akademisi perguruan tinggi serta guru rekomendasi dari 12 SMA Unggul Garuda Transformasi. Seluruh pewawancara minimal berkualifikasi pendidikan magister (S2) atau memiliki pengalaman kerja profesional selama lima tahun di bidang terkait.
"Kita berkolaborasi dengan pewawancara dari beberapa perguruan tinggi. Selain itu, pewawancara juga berasal dari guru yang direkomendasikan oleh Kepala Sekolah dari masing-masing 12 SMA Unggul Garuda Transformasi," kata Titin, salah satu pihak penyelenggara melalui keterangan tertulis.
Kemdiktisaintek mengoperasikan sebuah command center yang diperkuat oleh 30 fasilitator guna memastikan kelancaran alur komunikasi selama proses daring berlangsung. Sistem penilaian telah terintegrasi untuk menggabungkan hasil wawancara dengan skor tes akademik serta tes potensi akademik yang sudah dilakukan sebelumnya.
Langkah seleksi ini merupakan penyaring sebelum peserta memasuki tahap pemeriksaan kesehatan yang dijadwalkan rampung pada Mei 2026. Program ini difokuskan untuk mengisi bangku di empat lokasi sekolah baru, yakni di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Tanjung Selor, Konawe Selatan, dan Belitung Timur.