Senegal Tetap Arak Trofi Piala Afrika 2025 Meski Gelar Dicabut

Timnas Senegal bersikeras mengarak trofi Piala Afrika 2025 meski gelarnya dicabut oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).

Timnas Senegal berkeras akan tetap melakukan parade trofi Piala Afrika 2025, meskipun gelar juara mereka telah dicabut. Aksi ini akan dilakukan menjelang laga uji coba kontra Peru di Stade de France, Saint-Denis, Prancis pada Minggu (29-3-2026) dini hari WIB.

Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) bahkan menyatakan siap melakukan perlawanan atas keputusan kontroversial tersebut.

Langkah ini diambil sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang membatalkan kemenangan Senegal di final dan memberikan gelar juara kepada Maroko.

Dalam jadwal yang dirilis melalui media sosial federasi, agenda parade trofi tetap dicantumkan sebelum pertandingan di Prancis. Hal ini menegaskan bahwa Senegal belum menerima keputusan pencabutan gelar tersebut.

Presiden FSF, Abdoulaye Fall, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam terkait keputusan ini.

"Berhadapan dengan apa yang merupakan perampokan administratif paling terang-terangan dan belum pernah terjadi dalam sejarah olahraga kita, Federasi Sepak Bola Senegal menolak menganggap ini sebagai sesuatu yang tak terelakkan," kata Fall dalam konferensi pers di Paris.

Ia pun menegaskan bahwa Senegal tidak akan menyerah dan akan terus berjuang.

"Senegal tidak akan tunduk dan tidak akan mengorbankan nilai-nilainya. Perjuangan kami kini melampaui lapangan sepak bola," ujarnya.

Senegal sebelumnya meraih gelar Piala Afrika kedua mereka pada 18 Januari 2026 setelah mengalahkan tuan rumah Maroko 1-0 melalui perpanjangan waktu. Namun, laga final di Rabat tersebut diwarnai kericuhan.

Para pemain Senegal meninggalkan lapangan setelah Maroko mendapatkan hadiah penalti pada masa tambahan waktu saat skor masih imbang 0-0. Penyerang Maroko, Brahim Diaz, gagal mengeksekusi penalti tersebut pada menit ke-114.

Protes Maroko dan Hukuman untuk Senegal

Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) langsung mengajukan protes ke CAF dan FIFA. Mereka menilai bahwa tindakan Senegal meninggalkan lapangan telah memengaruhi jalannya pertandingan dan mental para pemain.

Awalnya, Komite Disiplin menolak banding tersebut dan hanya menjatuhkan sanksi kepada kedua tim, termasuk larangan lima pertandingan untuk pelatih Senegal, Pape Thiaw.

Namun, pihak Maroko menilai hukuman itu tidak sepadan dengan insiden yang terjadi. Komite Banding kemudian membatalkan keputusan awal pada 17 Maret, dan menyatakan Senegal melanggar pasal 82 dan 84 regulasi kompetisi.

Pasal 82 menyebutkan bahwa tim yang meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir tanpa izin wasit akan dinyatakan gugur. Akibatnya, kemenangan Senegal dibatalkan dan Maroko dinyatakan menang 3-0.

Banding Senegal ke CAS

Kasus ini kini dibawa ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), yang telah menerima banding dari Senegal dan berjanji akan memberikan keputusan secepatnya.

Pemerintah Senegal juga sempat menyerukan penyelidikan atas dugaan korupsi di tubuh CAF, tetapi tudingan tersebut dibantah oleh Presiden CAF, Patrice Motsepe.

FSF telah menyiapkan tim hukum untuk melawan keputusan tersebut.

"Untuk menjalankan perjuangan moral dan hukum ini, kami telah menunjuk tim profesional berpengalaman dengan keahlian yang tak terbantahkan," kata Fall.

Keputusan yang Dianggap Tidak Masuk Akal

Salah satu anggota tim hukum FSF, Seydou Diagne, menyebut keputusan pencabutan gelar sebagai sesuatu yang sulit diterima.

"Keputusan ini begitu terang-terangan, begitu absurd, begitu tidak rasional," kata Diagne.

"Putusan Komite Banding bahkan tidak bisa dianggap sebagai keputusan keadilan olahraga yang sebenarnya. Ini adalah serangan yang tidak dapat diterima terhadap hak-hak mendasar federasi kami," ujarnya.

Pengacara lain di tim hukum FSF, Juan Perez, menilai kasus ini belum pernah terjadi sebelumnya.

"Pertandingan yang sudah selesai, dengan hasil yang ditentukan oleh wasit, kini diadili ulang secara administratif, ini belum pernah terjadi. Ini bisa mengubah dunia sepak bola," ucapnya.

CAF sempat memperbarui laman resmi mereka dengan mencantumkan Maroko sebagai juara Piala Afrika 2025, namun halaman tersebut kini tidak lagi dapat diakses.

Dengan penolakan Senegal untuk menyerahkan trofi dan rencana parade yang tetap berjalan, sengketa mengenai gelar juara Afrika ini masih jauh dari selesai.

Recommended