Kontroversi besar menyelimuti Timnas Senegal menjelang pertandingan uji coba melawan Timnas Peru di Stade de France, Paris. Meskipun gelar Piala Afrika 2026 secara resmi telah dicabut oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Senegal tetap memperlihatkan trofi tersebut di hadapan publik. Situasi ini muncul setelah keputusan mengejutkan dari CAF yang membatalkan kemenangan Senegal di final melawan Timnas Maroko, seperti dilansir dari Bola.
Padahal, Senegal sebelumnya dinyatakan sebagai pemenang 1-0 dalam laga final yang berlangsung sengit dan penuh perdebatan. Akan tetapi, keputusan banding akhirnya membalikkan hasil tersebut, sekaligus menyerahkan gelar juara kepada Maroko. Di tengah polemik ini, Timnas Senegal menunjukkan sikap tegas dengan tetap merayakan trofi yang sempat mereka raih, seolah mengirimkan pesan bahwa perjuangan mereka belum usai.
Menjelang kick-off laga persahabatan, kapten Kalidou Koulibaly bersama rekan-rekannya melakukan lap of honour dengan membawa trofi AFCON di tengah stadion. Momen ini semakin meriah dengan adanya konser pra-pertandingan dari musisi Senegal ternama, Youssou N'Dour. Koulibaly bersama kiper Edouard Mendy bahkan membawa trofi tersebut ke tribun kehormatan, lalu menyerahkannya secara simbolis di hadapan Presiden Federasi Sepak Bola Senegal, Abdoulaye Fall.
Aksi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Maroko secara resmi mengukuhkan status gelar mereka pasca keputusan final CAF. Ribuan suporter memadati Stade de France sejak sebelum pertandingan dimulai. Sekitar 200 pendukung juga sempat berkumpul di sekitar Basilika Saint-Denis sebelum berjalan bersama menuju stadion diiringi musik tradisional. Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, menyambut rombongan tersebut dengan mengatakan, “Anda adalah kebanggaan masyarakat. Hari ini, Afrika bersatu. Semua mendukung Senegal.”
Awal Mula Kontroversi Final AFCON
Kontroversi bermula saat final AFCON yang diselenggarakan Januari lalu. Kala itu, Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap penalti yang diberikan kepada Maroko. Setelah penundaan sekitar 14 menit, pertandingan dilanjutkan dan penalti tersebut gagal dimanfaatkan. Laga kemudian berlanjut hingga babak tambahan waktu.
Gol tunggal Pape Gueye di perpanjangan waktu sebenarnya memastikan kemenangan 1-0 untuk Senegal di lapangan. Namun, Maroko segera mengajukan banding. Meskipun awalnya ditolak, panel banding CAF kemudian membalikkan hasil pertandingan menjadi kemenangan 3-0 untuk Maroko, sekaligus menyerahkan gelar juara kepada mereka.
Senegal Siap Tempuh Jalur Hukum
Federasi Senegal tidak tinggal diam. Mereka telah memastikan akan membawa kasus ini kembali ke CAF, bahkan hingga ke Court of Arbitration for Sport (CAS). Proses hukum ini diperkirakan bisa memakan waktu hingga satu tahun. Pemerintah Senegal juga menyerukan investigasi independen terhadap keputusan CAF, termasuk dugaan praktik korupsi.
Terlepas dari kontroversi yang belum selesai, Senegal harus tetap fokus ke depan. Laga melawan Peru menjadi pertandingan pertama mereka sejak final AFCON. Tim berjuluk Lions of Teranga itu sedang mempersiapkan diri untuk Piala Dunia 2026, di mana mereka akan menghadapi lawan berat seperti Timnas Prancis, Timnas Norwegia, serta pemenang playoff antara Bolivia atau Irak. Skuad yang diturunkan pun hampir identik dengan tim yang tampil di AFCON, menunjukkan konsistensi komposisi pemain mereka di tengah badai kontroversi.