Pria Bersenjata Serang Rumah Sam Altman dan Markas OpenAI

Seorang pria asal Texas menyerang rumah Sam Altman dan markas OpenAI di San Francisco pada 10 April 2026 sebagai bentuk protes keras terhadap AI.

Seorang pemuda asal Texas ditangkap setelah melakukan serangkaian serangan teror terhadap kediaman CEO OpenAI Sam Altman dan markas besar perusahaan tersebut di San Francisco pada Jumat pagi, 10 April 2026.

Dilansir dari Detik iNET, pelaku yang diidentifikasi sebagai Daniel Moreno-Gama (20) melemparkan bom molotov ke gerbang rumah Altman senilai 27 juta dolar AS di kawasan Pacific Heights pada pukul 03.40 waktu setempat.

Setelah melarikan diri dari lokasi pertama, Moreno-Gama muncul di kantor pusat OpenAI di Mission Bay kurang dari satu jam kemudian untuk mencoba merusak pintu kaca dan mengancam akan membakar gedung.

Kepolisian menemukan manifesto tiga bagian milik pelaku yang berisi daftar nama serta alamat para eksekutif dan investor kecerdasan buatan (AI) di seluruh Amerika Serikat sebagai target pembunuhan.

Aksi kekerasan berlanjut dua hari kemudian pada Minggu dini hari, ketika sebuah peluru ditembakkan ke arah rumah Altman lainnya di Russian Hill dari sebuah sedan Honda yang kemudian melarikan diri.

Pihak berwenang berhasil menangkap dua orang tambahan yang diduga terlibat dalam penembakan di Russian Hill tersebut beberapa jam setelah kejadian berlangsung.

"Ketakutan dan kecemasan terhadap AI memang dibenarkan," tulis Sam Altman, CEO OpenAI dalam sebuah pernyataan menanggapi sentimen publik yang kian memanas terhadap perkembangan teknologi tersebut.

Serangan di Amerika Serikat ini merupakan bagian dari gelombang global penolakan terhadap AI yang juga memicu protes massa di London dan Berlin dengan tuntutan penghentian pengembangan teknologi secara total.

Data menunjukkan bahwa sentimen negatif masyarakat Amerika Serikat terhadap AI mencapai 46 persen, yang diperparah dengan hilangnya 55 ribu lapangan kerja akibat otomasi sepanjang tahun 2025.

Selain kekerasan fisik, penolakan global juga mencakup sengketa hak cipta industri kreatif di Jepang, krisis deepfake di Korea Selatan, hingga tuntutan hak buruh label data di Kenya.

Di Tiongkok, pemerintah telah mengambil langkah drastis dengan mencabut 3.500 produk AI dari pasaran guna menjaga stabilitas sosial dan mencegah ketergantungan emosional warga pada chatbot.

Tabel 1. Peta Motif Gerakan Anti-AI di Berbagai Wilayah Dunia
Wilayah Bentuk Perlawanan Motif Utama
Amerika Serikat Kekerasan individu, protes kota kecil Ketakutan eksistensial, kehilangan pekerjaan, beban data center
Inggris dan Jerman Aksi massa damai, kampanye sipil Demokrasi digital, hak warga, krisis iklim
Tiongkok Regulasi keras dari atas Stabilitas sosial, kontrol konten, kohesi keluarga
Jepang Diplomasi pemerintah, industri kreatif Hak cipta, identitas budaya, integritas anime dan manga
Korea Selatan Kriminalisasi cepat Perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan digital
Afrika (Kenya) Organisasi buruh AI Hak buruh, penghapusan eksploitasi rantai pasok AI

Meskipun Indonesia belum mengalami eskalasi kekerasan serupa, survei menunjukkan 92 persen responden di dalam negeri kini mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan regulasi panduan AI yang jelas.

Recommended