Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengumumkan perubahan strategi pembangunan proyek Tol Gilimanuk-Mengwi di Jakarta pada Jumat (17/4/2026). Proyek strategis di Bali ini kini dirancang sebagai kombinasi antara jalan tol dan jalan nasional agar lebih menarik bagi para investor.
Perubahan porsi ruas tol tersebut bertujuan untuk memastikan keberlanjutan proyek yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2031 mendatang. Dilansir dari Detik Finance, pemerintah memutuskan hanya membangun segmen dengan potensi trafik tinggi dan kelayakan finansial yang kuat sebagai jalan bebas hambatan.
"Sebagian yang kira-kira itu cukup besar dan menarik investor, itu dijalantolkan, sementara sisanya kita bikin jadi jalan nasional," ungkap Dody di Gedung Kementerian PU, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Langkah ini diambil guna mempercepat pembangunan infrastruktur di Bali sebagai destinasi wisata utama.
Dody menegaskan bahwa modifikasi desain proyek tersebut merupakan bentuk tanggung jawab kementerian dalam menjaga posisi Bali di kancah pariwisata dunia. Ia mendorong agar jalur Gilimanuk-Mengwi tetap berjalan meskipun harus dilakukan pemotongan trase tol yang sebelumnya direncanakan secara penuh.
Berdasarkan data dari Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti, total kebutuhan investasi untuk proyek ini mencapai Rp 12,7 triliun. Anggaran tersebut mencakup rincian biaya konstruksi sebesar Rp 8,52 triliun dan biaya dukungan konstruksi yang menyentuh angka Rp 9 triliun.
Pengerjaan infrastruktur ini menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Jalur sepanjang Gilimanuk hingga Mengwi tersebut diproyeksikan mampu memangkas waktu tempuh kendaraan dari semula enam jam menjadi hanya sekitar tiga jam saja.
Saat ini, Kementerian PU masih memproses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta analisis dampak lalu lintas. Selain itu, pemerintah sedang merampungkan dokumen perencanaan pengadaan tanah dan rekomendasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang sebagai syarat kelanjutan proyek.