S&P Global Ratings memberikan sorotan terhadap profil kredit Indonesia, dengan potensi penurunan peringkat dalam waktu dekat.
Peringatan dari S&P ini didasari oleh meningkatnya tekanan fiskal, terutama terkait dengan biaya pembayaran utang yang lebih tinggi, yang dianggap meningkatkan risiko ekonomi bagi Indonesia.
Menurut Rain Yin, analis kedaulatan di S&P Global Ratings, pembayaran bunga utang Indonesia berpotensi melampaui ambang batas 15% dari pendapatan pemerintah tahun lalu. Hal ini disampaikan dalam sebuah webinar tentang kawasan Asia Pasifik.
"Dua perkembangan yang kami pantau dengan sangat cermat adalah kerangka fiskal jangka menengah, apakah tetap berlandaskan kebijakan aturan fiskal yang mapan, dan kedua, perkembangan pendapatan," kata Yin.
Meskipun S&P belum mengubah prospek peringkat kredit Indonesia yang saat ini berada di level BBB, komentar Yin mencerminkan kekhawatiran yang meluas mengenai posisi fiskal Indonesia.
S&P menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara sebagai indikator utama. Rasio ini mengalami peningkatan signifikan sejak pandemi dan belum menunjukkan penurunan yang cukup cepat. Padahal, Indonesia telah lama mempertahankan rasio pembayaran utangnya di bawah 15%.
Selain itu, defisit anggaran Indonesia juga mendekati batas 3%, mencapai 2,9%. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya akibat penerimaan yang melemah.
S&P melihat perkembangan ini sebagai risiko penurunan terhadap fiskal negara. Pendapatan yang loyo berpotensi mempertahankan beban bunga negara tetap tinggi dan mengikis penyangga fiskal.
Sebelumnya, Moody's Ratings juga mengubah prospek peringkat Baa2 Indonesia menjadi negatif dari stabil pada awal Februari 2026. Moody's menyoroti melemahnya tata kelola dan risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Peringatan dari Moody's muncul setelah sorotan dari MSCI mengenai perlunya reformasi pasar modal di Indonesia, yang memperburuk sentimen investor asing.
Menanggapi berita dari S&P, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan. Pada pembukaan perdagangan saham Jumat (27/2), IHSG langsung bergerak ke zona merah.
Berdasarkan data perdagangan RTI, IHSG sempat turun ke level 8.168,86, atau sekitar 0,81%. Namun, IHSG berhasil ditutup di zona hijau pada level 8.235.
Nilai transaksi indeks mencapai Rp 38,24 triliun dengan melibatkan 47,63 miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 2,52 juta kali. Sebanyak 341 saham menguat, 315 saham melemah, dan 163 saham stagnan.