Badan usaha mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia menyentuh angka USD3,3 miliar pada Maret 2026, yang menjadi level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Dilansir dari Medcom, pencapaian positif pada periode Maret ini didorong oleh penurunan drastis pada sisi impor di tengah kondisi permintaan domestik yang melandai.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menjelaskan bahwa peningkatan nilai surplus ini tidak disebabkan oleh lonjakan ekspor yang merata. Sebaliknya, angka tersebut merupakan dampak dari koreksi tajam nilai impor nasional pasca-momentum Ramadan dan Idulfitri.
Data menunjukkan nilai impor secara bulanan mengalami penurunan sebesar 8,1 persen. Kontraksi paling signifikan terjadi pada kategori barang modal yang merosot hingga 15,8 persen, disusul oleh barang konsumsi yang turun sebesar 11,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan juga terlihat pada komoditas emas seiring dengan terkoreksinya harga emas global sekitar 15 persen secara bulanan. Sementara itu, sektor nonmigas seperti hilirisasi nikel, besi baja, bahan kimia, serta minyak sawit tetap menjadi penopang utama kinerja ekspor nasional.
"Surplus ini lebih mencerminkan koreksi impor, terutama pasca-momentum Ramadan dan Idulfitri, serta indikasi permintaan domestik yang masih lemah," ujar Novani Karina Saputri, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Sektor minyak dan gas justru memberikan tekanan melalui peningkatan nilai impor menjadi USD3,2 miliar pada Maret dari posisi USD2,0 miliar di bulan Februari. Kondisi ini menyebabkan defisit sektor migas melebar menjadi USD1,9 miliar akibat harga minyak dunia yang bertahan di atas USD100 per barel.
Novani memproyeksikan surplus neraca perdagangan ke depan akan terus menyusut ke kisaran USD1,5 miliar hingga USD3,0 miliar. Hal ini dipengaruhi oleh potensi pemulihan impor barang modal dan bahan baku untuk mendukung aktivitas produksi industri di masa mendatang.
Terdapat risiko surplus akan turun di bawah USD1 miliar apabila harga energi global tetap tinggi dan tensi geopolitik meningkat. Tekanan eksternal yang berkelanjutan dan pelemahan harga komoditas diperkirakan dapat memicu potensi defisit pada neraca perdagangan di periode selanjutnya.