Bursa saham, surat utang negara (SBN), dan nilai tukar rupiah sebagai indikator utama ekonomi Indonesia tengah menghadapi tekanan global. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun.
Menurut Misbakhun, tekanan ini terjadi bersamaan dengan masa transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo kepada Presiden Prabowo Subianto, serta pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati kepada Purbaya Yudhi Sadewa.
"Tiga ukuran ini semuanya sekarang diberikan tekanan oleh global. Ketika, di saat apa? Kalau saya sebagai politik di saat apa? Di saat pemerintahan itu bergeser dari Bapak Presiden Jokowi ke Pak Prabowo. Ketika Menteri Keuangannya bergeser dari Menteri Keuangan Sri Mulyani ke Purbaya. Irisan-irisan ini terkait atau tidak terkait? Menurut saya ada korelasi," ujar Misbakhun di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Selasa (3/3/2026).
Misbakhun menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih stabil. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan di atas 5%, neraca perdagangan yang positif, dan cadangan devisa yang kuat.
Namun, ia mengakui bahwa sentimen pasar masih sangat mempengaruhi kondisi ekonomi makro Indonesia. Ia menyoroti bagaimana bursa saham dan SBN tertekan oleh sentimen negatif.
Misbakhun menekankan perlunya komunikasi yang efektif dari pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga kepercayaan investor selama masa transisi kepemimpinan.
"Menurut saya harus ada komunikasi yang kuat. Kalau saya mengatakan ketika tiga unsur kekuatan wajah ekonomi Indonesia ini diberikan tekanan, maka saya bilang our brand in the crisis. Kita mempertaruhkan nama negara Republik Indonesia," ujarnya.