Tim Geypens, bek FC Emmen yang juga merupakan pemain naturalisasi Timnas Indonesia, kini dapat kembali merumput. Pemain berusia 20 tahun ini telah terbebas dari kasus "paspoortgate" yang sempat menimpanya, sebuah kabar baik yang dilansir dari Bola.
Kabar kembalinya Geypens diulas oleh media Belanda, Dagblad van het Noorden (DVHN), dalam sebuah artikel berjudul "Tim Geypens (20) kembali menjadi pesepak bola profesional di FC Emmen. Saya tiba-tiba menjadi ilegal di negara saya sendiri" yang terbit pada Kamis, 9 April 2026.
"Tadi malam pengacara saya menelepon dan mengatakan saya boleh kembali ke lapangan," ujar Tim Geypens, mengacu pada hari Rabu, 8 April 2026 waktu Belanda. Geypens mengungkapkan kegembiraannya bisa kembali aktif sebagai pesepak bola.
FC Emmen secara resmi mengumumkan pada Kamis, 9 April 2026, bahwa Geypens telah diizinkan untuk kembali berlatih dan bermain. Dia kini memegang izin tinggal sementara hingga tahun 2031, dengan opsi perpanjangan.
"Pagi ini saya bangun dengan sangat bahagia, karena saya kembali menjadi pesepak bola dan bisa kembali ke klub. Kondisi fisik saya terjaga, sentuhan bola sempat sedikit kaku, tapi cepat kembali," tutur Geypens, menggambarkan perasaannya setelah melewati masa sulit.
Geypens dinaturalisasi sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) di KBRI London, Inggris, pada 8 Februari 2025, bersama dengan Ole Romeny dan Dion Markx. Saat itu, dia diproyeksikan untuk membela Timnas U-20 dan timnas di atasnya, mengingat usianya yang masih muda.
Sebelum resmi menjadi WNI, Geypens bahkan sempat bermain untuk Timnas U-20 di Toulon Cup 2024 di Prancis. Dia bermain bersama pemain keturunan lain seperti Mauresmo Hinoke, Sascha Deighton, dan Sem Yvel, yang kemudian tidak melanjutkan proses naturalisasi.
Pemain kelahiran Oldenzaal, Belanda, pada 21 Juni 2005 itu mengakui kurangnya pemahaman mengenai konsekuensi hukum. Dia tidak menyadari bahwa memilih kewarganegaraan lain akan menyebabkan dirinya kehilangan paspor Belanda, mengingat Belanda menganut sistem kewarganegaraan tunggal, sama seperti Indonesia.
"Tidak, kehilangan kewarganegaraan Belanda saat mengambil keputusan itu tidak pernah benar-benar dibahas. Saya juga kurang mendalaminya, dan itu adalah kesalahan saya sendiri," kata Geypens, menunjukkan penyesalannya.
Meskipun demikian, Geypens menolak untuk menyalahkan PSSI maupun agennya. "Mungkin mereka bisa menjelaskan konsekuensinya dengan lebih jelas, tetapi saya sendiri juga kurang memperhatikannya. Semuanya terlihat begitu indah, saya berada dalam semacam tunnel vision," terangnya.
Harapan untuk Status Kewarganegaraan dan Kejanggalan Digital
DVHN melaporkan bahwa Geypens kini ingin mengetahui apakah ada kemungkinan baginya untuk kembali menjadi warga negara Belanda di masa mendatang. Sejak menjadi WNI, Geypens sempat dipanggil untuk FIFA Series 2026 bersama Timnas Indonesia, namun harus dicoret karena kasus ini.
Bek kiri keturunan Semarang, Jawa Tengah, dari garis kakeknya itu belum sempat mencatatkan penampilan bersama Timnas Indonesia. "Rasanya sangat aneh. Tiba-tiba saya menjadi ilegal di Belanda, negara tempat saya lahir dan bersekolah," ujarnya.
Geypens menambahkan, "Sekarang saya menyadari bahwa hukum tetaplah hukum, jadi harus ada solusi. Mungkin mereka akan menyesuaikan aturan di Indonesia terkait paspor ganda."
DVHN juga menemukan kejanggalan menarik. Meskipun status kewarganegaraannya telah menjadi WNI, Geypens masih memegang paspor Belanda dan dapat mengakses DigiD, sistem identitas digital pemerintah Belanda.
"Saya masih bisa masuk ke DigiD dan sebagainya. Sepertinya antar pemerintah juga tidak sepenuhnya saling terhubung," ucap Geypens, menyoroti adanya celah dalam sistem administrasi antarnegara.
Terkait masalah ini, Geypens menyerahkan sepenuhnya kepada agen dan pengacaranya. "Mereka berbicara dengan istilah-istilah sulit dan bahasa hukum. Saya hanya ingin tahu apakah saya bisa kembali menjadi warga negara Belanda dan apa dampaknya terhadap kewarganegaraan Indonesia saya," jelasnya.
Dampak Kontrak dan Perhatian Publik
Sebagai pemain non-Uni Eropa (EU) di Belanda, Geypens seharusnya menerima gaji minimal 608.000 euro atau sekitar Rp12,1 miliar sesuai aturan yang berlaku. Meskipun kontraknya dengan FC Emmen rencananya akan diperpanjang, Geypens diperkirakan tidak akan menerima pendapatan setinggi pemain non-EU.
"Sepertinya sekarang saya memiliki jenis izin kerja yang berbeda sehingga masalah itu bisa terselesaikan," kata Geypens. Ia juga mengungkapkan bahwa kasus ini telah menempatkannya di bawah sorotan publik.