Toprak Razgatlioglu Hadapi Tantangan Adaptasi di MotoGP 2026

Toprak Razgatlioglu alami kesulitan adaptasi ban Michelin pada tes pramusim MotoGP Sepang. Ia akan membela tim Prima Pramac Yamaha di MotoGP 2026.

Perjuangan Toprak Razgatlioglu untuk beradaptasi di MotoGP tidak semudah saat ia berjaya di WorldSBK. Dalam tes pramusim di Sepang, ia mulai merasakan tantangan, terutama dalam beradaptasi dengan ban Michelin yang lebih sensitif dibandingkan Pirelli.

Bergabung dengan tim Pramac Racing Yamaha, Toprak tengah beradaptasi. Meskipun pengereman masih menjadi keunggulannya, masalah muncul saat keluar tikungan, momen penting dalam MotoGP modern.

Target lap 1 menit 57 detik di Sepang belum tercapai, selisih 1,9 detik dari Alex Marquez (Gresini Ducati) dan 0,746 detik dari Alex Rins (Yamaha). Ini menjadi indikasi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Fokus utama adalah menghindari wheelspin dini. Kebiasaan di Superbike menjadi tantangan baru di MotoGP yang menuntut pendekatan berbeda dalam mengelola traksi.

Toprak mengakui perbedaan karakter ban Michelin dengan Pirelli. Jika di Superbike spin masih terkontrol, di MotoGP situasinya lebih ekstrem.

"Ban Pirelli ketika mulai spin masih mudah dikendalikan. Tapi Michelin kalau sudah spin, tidak berhenti lagi," ujarnya.

Ia menambahkan, gaya berkendara harus seperti Moto2, membuka gas sangat halus karena ban sangat sensitif. Timnya selalu mengingatkan untuk berkendara dengan halus.

Masalahnya terletak pada insting balapnya. Di Superbike, Toprak terbiasa memanfaatkan sliding ban belakang untuk membantu motor berbelok dan mendapatkan akselerasi. Di MotoGP, pendekatan ini berlawanan. Terlalu agresif membuka gas menyebabkan spin berlanjut hingga gigi lima atau enam.

Toprak menyinggung kemungkinan perubahan setelan suspensi saat tes di Thailand. "Sepertinya kami butuh setelan berbeda, terutama untuk membantu motor lebih mudah berbelok dan memberi grip lebih baik," katanya.

Jack Miller: Sekali Spin, Sulit Dihentikan

Rekan setimnya, Jack Miller, memperkuat analisis tersebut. Menurutnya, mengontrol spin adalah kunci utama saat menggunakan ban Michelin.

"Itu hal terbesar dengan Michelin. Sekali mulai spin, tidak berhenti sampai gigi lima atau enam. Bahkan saat motor sudah tegak lurus," jelas Miller.

Miller mencontohkan bagaimana motor Ducati membuka throttle dengan sangat halus demi menjaga transfer beban tetap stabil dan tidak mengganggu keseimbangan motor saat keluar tikungan.

Miller juga menyinggung masalah Yamaha musim lalu dengan mesin Inline4. Karakter tersebut dinilai sulit menjaga traksi saat akselerasi, yang kemudian memperkuat keputusan pabrikan beralih ke konfigurasi V4 untuk masa depan.

"Tahun lalu dengan Inline4 sangat sulit menjaga transfer beban dan tetap dalam traksi. Kalau spin terjadi terlalu awal, itu akan terus berlanjut," tegasnya.

Ujian Berikutnya di Buriram

Toprak memiliki kesempatan menyempurnakan adaptasinya dalam tes di Sirkuit Buriram pada 21–22 Februari. Trek Thailand itu juga akan menjadi lokasi debut balap MotoGP-nya sepekan kemudian.

Fase ini menjadi momen pembelajaran cepat. Ia tidak hanya harus memahami motor, tetapi juga mengubah filosofi berkendara yang sudah melekat di Superbike.

Transisi dari WorldSBK ke MotoGP bukan sekadar naik kelas, melainkan perubahan total dalam pendekatan teknis dan gaya balap. Jika Toprak mampu mengendalikan insting lamanya dan menemukan keseimbangan dengan karakter Michelin serta Yamaha, potensi besarnya bisa benar-benar meledak. Namun untuk saat ini, ujian wheelspin menjadi rintangan pertama yang harus ia taklukkan.

Recommended