Tottenham Hotspur berada dalam situasi yang tidak biasa, berpotensi mengalami degradasi dari Premier League dan memenangkan Liga Champions di musim yang sama. Skenario ini akan menjadi yang pertama dalam sejarah sepak bola.
Meskipun peluangnya kecil, secara teoritis Spurs bisa saja terlempar ke EFL Championship dan secara bersamaan mengangkat trofi Liga Champions. Jika ini terjadi, akan menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi di kompetisi domestik menjadi penyebabnya. Igor Tudor menggantikan Thomas Frank, dan Spurs hanya berjarak empat poin dari zona degradasi di klasemen liga.
Ironisnya, performa buruk di liga berbanding terbalik dengan pencapaian mereka di Liga Champions, di mana mereka berhasil melaju ke babak 16 besar.
Tottenham bukanlah favorit juara Eropa musim ini. Mereka hanya memiliki peluang 1,98 persen untuk melampaui pencapaian mereka pada tahun 2019. Namun, ancaman degradasi tetap membayangi.
Spurs belum pernah terdegradasi sejak 1977. Jika skenario terburuk terjadi bersamaan dengan kesuksesan di Eropa, konsekuensinya akan kompleks. Menurut regulasi UEFA, juara Liga Champions otomatis lolos ke edisi berikutnya. Ini berarti Spurs tetap berhak mempertahankan gelar jika mereka terdegradasi tetapi menjuarai Liga Champions.
Kalender pertandingan bisa menjadi mimpi buruk. Spurs harus memainkan 46 pertandingan Championship, ditambah Carabao Cup, FA Cup, dan League Phase Liga Champions dalam satu musim.
Sepanjang sejarah sepak bola Inggris, belum ada klub yang terdegradasi dan menjuarai Liga Champions. Wigan Athletic dan Birmingham City pernah terdegradasi tetapi tetap tampil di kompetisi Eropa karena memenangkan FA Cup dan EFL Cup.
Jalan Tottenham Menuju Trofi Eropa
Di babak 16 besar, Spurs berpotensi menghadapi Juventus, Galatasaray, Club Brugge, atau Atletico Madrid. Lawan pasti akan ditentukan setelah fase play-off selesai.
Jika mencapai perempat final, lawan terberat berikutnya bisa jadi Paris Saint-Germain, Chelsea, atau Barcelona.
Di semifinal, Spurs kemungkinan akan menghadapi Real Madrid, Manchester City, Arsenal, atau Bayern Munich.
Jika berhasil mencapai final, lawan yang menanti bisa berasal dari tim-tim tersebut, atau bahkan Liverpool asuhan Arne Slot.
Semua ini mungkin terdengar seperti fiksi, tetapi sepak bola sering menghadirkan cerita tak terduga. Spurs kini berada di persimpangan jalan antara sejarah gemilang dan musim paling kacau.