Klub sepak bola Wolverhampton Wanderers dipastikan terdegradasi dari kasta tertinggi Liga Inggris, Premier League, pada Kamis (23/4/2026) setelah performa tim terus merosot sepanjang musim. Kegagalan ini memicu gelombang protes besar dari para suporter di sekitar Molineux Stadium terhadap kebijakan pemilik klub.
Dilansir dari Medcom, para pendukung menuding Fosun Group selaku pemilik klub terlalu memprioritaskan ekspansi divisi esports di China daripada kebutuhan teknis tim sepak bola. Kenaikan harga tiket pertandingan kandang dan minimnya perbaikan fasilitas stadion turut memperparah rasa frustrasi para loyalis klub berjuluk Wolves tersebut.
Krisis manajemen ini sebelumnya telah menyebabkan pergantian pucuk pimpinan setelah Jeff Shi menanggalkan jabatannya sebagai Presiden Komisaris pada Desember lalu. Posisi tersebut kini diisi oleh Nathan Shi menyusul tekanan masif dari suporter yang merasa klub hanya dijadikan alat investasi bisnis.
Laporan The Athletic menyebutkan bahwa Jeff Shi menganggap sektor esports memberikan keuntungan finansial yang lebih besar bagi Fosun Group dibandingkan industri sepak bola. Hal ini terlihat dari prestasi divisi Honor of Kings Wolves yang berhasil menembus Grand Final King Pro League 2025 di Beijing.
Pertandingan final esports tersebut mencatatkan rekor dunia Guinness dengan kehadiran 62.000 penonton di Stadion Bird’s Nest, di mana seluruh tiket terjual habis hanya dalam 12 detik. Kontrasnya prestasi antara divisi digital dan tim lapangan hijau memicu persepsi bahwa identitas emosional klub telah bergeser menjadi sekadar aset investasi.
"Operasional esports berjalan sebagai entitas terpisah dan tidak menggunakan sumber daya teknis tim sepak bola," ujar Nathan Shi, CEO baru Wolves. Penegasan ini disampaikan untuk menepis anggapan bahwa dana pengembangan tim sepak bola dialihkan untuk membiayai divisi olahraga elektronik tersebut.
Dikutip melalui The Observer, nilai pasar esports diprediksi akan menyentuh angka USD7,5 miliar atau sekitar Rp130 triliun pada tahun 2030. Namun, bagi pendukung setia, nilai ekonomi tersebut tidak sebanding dengan hilangnya eksistensi klub di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Inggris.